4 Mini-Habits untuk Muslim yang Lebih Produktif

Yang bisa kamu lakukan hari ini juga, tanpa mengganggu (dan justru meningkatkan) produktivitasmu.

(dokumen penulis)

Karena seorang Muslim hidup untuk beribadah, maka aku mendefinisikan kata “produktif” sebagai aktivitas yang menghasilkan (memproduksi) pahala ibadah, baik aktivitas duniawi yang bernilai ibadah, maupun yang bersifat murni untuk akhirat.

Sementara banyak banget konten produktivitas duniawi yang ada di luar sana, inilah empat rutinitas kecil (mini habits) yang, menurut pengalamanku, efektif dan bisa melengkapi produktivitas-murni-akhirat-mu (di samping manfaat duniawinya, tentu saja).

Tip: tulisan ini berfokus pada pendekatan/caraku menerapkan keempat mini-habits tersebut — supaya, di samping manfaat akhiratnya, tidak mengganggu produktivitas duniawi kita juga — saja. Dalil dan referensi akan kuserahkan pada pembaca sendiri yang tertarik menelusurinya lebih dalam, sehingga tidak kucantumkan supaya tidak kepanjangan.

1. Dzikir pagi dan petang

Durasi: 2 x 5 menit / hari

Cara kerja:
Dzikir pagi dan petang merupakan serangkaian dzikir/doa yang dibaca antara subuh hingga terbit fajar dan ashar sampai tenggelamnya matahari.

Aku suka menyebut ini sebagai “productivity booster starter pack” untuk Muslim, karena banyak banget manfaatnya: diberikan kecukupan atas segala sesuatu, dilindungi dari sikap malas, kesucian panca indera, dimudahkan atas segala urusan, dan masih banyak lagi, termasuk diingatkan akan kematian supaya, ya, tidak berlebihan juga urusan dunianya.

Untuk memandu dzikir pagi dan petangku, aku menggunakan aplikasi Apa Doanya di Android (tersedia juga di App Store)

Pro tip #1: Setelah sekitar satu-dua bulan melakukan ini tiap hari, aku mulai hafal seluruh rangkaian dzikirnya. Jadi, lima menit perjalananku pulang dari masjid setelah salat subuh dan setelah salat ashar sudah cukup untuk dzikir pagi dan petang tanpa pemandu (aku membacanya agak cepat), sehingga sesampainya di rumah bisa langsung kembali beraktivitas.

Pro tip #2: Kalau sudah hafal lafalnya, aku kadang berdzikir sambil membaca artinya di saat yang sama, agar lebih meresap.

2. Salat isyraq: untuk yang ingin salat dhuha tapi sulit konsisten.

Durasi: 3 menit / hari

Cara kerja:
Kita bisa salat dhuha kapan pun kita mau dari terbit fajar hingga siang, sehingga harusnya membuatnya fleksibel terhadap jadwal aktivitas kita. Tapi, aku tetap sulit konsisten salat dhuha, karena: 1) aku cenderung menunda-nunda sampai akhirnya tidak sempat lagi, dan 2) aku harus mengingatkan diriku terus menerus untuk salat dhuha tiap hari karena waktunya cenderung tidak menentu (karena leluasa).

Solusinya adalah menetapkan waktu tertentu tiap hari untuk salat dhuha. Tapi kalau mau begitu, sekalian saja salat isyraq: salat dhuha dua rakaat yang dilakukan sekitar 15 menit setelah terbit fajar.

Ini efektif karena menyelesaikan dua persoalanku tadi dengan waktunya yang menetap, dan karena kebetulan aku punya rutinitas lain tepat sebelum waktu salat isyraq, otakku mudah mengasosiasikan salat isyraq ini dengan selesainya melakukan rutinitas tersebut. Lambat laun, konsentrasiku secara refleks dikondisikan untuk salat isyraq pada waktu tersebut tiap hari, sehingga jauh lebih mudah juga untuk konsisten.

3. Mengganti bengong dengan istighfar

Durasi: - (setiap bengong)

Cara kerja:
Karena kita makhluk penuh dosa dan penuh dengan waktu luang di sela-sela aktivitas, mengisinya dengan istighfar, yang sama sekali nggak membutuhkan tenaga gimana-gimana, adalah no-brainer.

Bagian yang agak sulit adalah mengingatkan diri untuk beristighfar. Untuk itu, aku mulai sedikit demi sedikit dan membuat semacam peraturan sederhana: setiap keluar rumah, aku akan beristighfar. Ini bekerja karena otakku mengasosiasikan getaran mesin motor yang kurasakan ketika menaikinya ketika keluar rumah sebagai pemicu untuk istighfar. Lambat laun, aku mulai secara refleks beristighfar setiap keluar rumah.

Tapi, tentu saja itu baru tahap pertama. Tahap berikutnya, kalau ini sudah lancar, adalah mengasosiasikan istighfar dengan aktivitasku yang lainnya, satu per satu, termasuk di dalam rumah, hingga setiap waktu luangku diisi dengan istighfar.

Kamu juga bisa mulai sedikit demi sedikit mengasosiasikan istighfar dengan aktivitasmu sendiri yang bisa mengingatkanmu untuk istighfar dengan mudah.

4. Mengaji satu halaman menjelang adzan/setelah salat wajib

Durasi: 5 x 3 menit / hari

Cara kerja:
Salah satu yang membuatku sempat malas membaca al-Quran adalah karena rasanya sangat memakan waktu. Tapi, setelah dihitung-hitung, sebenarnya satu halaman al-Quran cuma butuh tiga menit untuk dibaca.

Setiap orang punya/ingin punya target mengajinya tiap hari, dan kalau ada satu titik untuk memulainya dengan mudah, kurasa adalah dengan membaca satu halaman tiga menit menjelang adzan atau setelah salat wajib. Ini bekerja karena: 1) otak lambat laun mengasosiasikan saat-saat menjelang/setelah salat wajib dengan mengaji, membuatnya mudah untuk konsisten; dan 2) mengaji menjelang salat membantu mengondisikan pikiran yang sebelumnnya aktif ke sana kemari supaya tenang agar salat lebih khusyuk, atau sebaliknya kalau, mengaji setelah salat wajib.

Pro tip: Kalau kamu tertarik membaca al-Quran satu juz (~20 halaman) per hari, teknik ini bisa membantu: mengaji 16 halaman (kalau sulit, dilatih sedikit demi sedikit) antara setelah salat subuh hingga waktu syuruq (salat isyraq) + 4 x 1 halaman menjelang dzuhur, ashar, maghrib, dan isya. Ini proporsi yang pas untukku.

Kesimpulan

Dengan durasi yang nggak seberapa, berdzikir pagi-petang, salat isyraq, beristighfar ketika bengong, di tambah satu-dua halaman tiap menjelang adzan, kurasa adalah investasi waktu yang sangat menguntungkan bagi produktivitas dunia dan akhiratmu.

Studies medicine 🧑‍⚕️. Currently writes on health ⛑, education 🧑‍🎓, day-to-day documentaries 📹, with unpopular ideas 💡 along the way. Writes in 🇬🇧🇮🇩

Studies medicine 🧑‍⚕️. Currently writes on health ⛑, education 🧑‍🎓, day-to-day documentaries 📹, with unpopular ideas 💡 along the way. Writes in 🇬🇧🇮🇩