Abai Statistik, Tuai Polemik: Dari Yang Katanya Korban PJJ Hingga Rapor Merah Mendikbud

Foto oleh Photos Hobby dari Unsplash

Belum sampai dua pekan yang lalu, ditemukan siswi SMA bunuh diri lantaran — menurut judulnya sih stres belajar online.

“‘Wah, memang ngacau PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) ini,’ pasti demikian kesimpulan orang-orang yang membaca judul berita ini,” pikirku. Padahal menurut salah satu redaksi, pihak kepolisian sendiri belum bisa menyatakan pasti penyebab tragedi itu: entah karena mimpi yang menghantui korban menjelang tragedi tersebut, entah karena ekonomi keluarga korban hingga motor trail yang diidam-idamkannya belum bisa dikabulkan, entah ini semua ulah problematika asmara remaja. Dan dari semua kemungkinan itu, hampir tidak ada bukti yang menyinggung persoalan pembelajaran online — betulkah PJJ mengacau (gagal)?

Kendati demikian, tentu tidak ada judul berita yang lebih sedap daripada judul yang bisa membuat semua orang (eh oknum masyarakat) berteriak, “Dasar Kemdikbud pembunuh! Bikin kebijakan apa pemakaman?”

Di bawah atmosfer macam ini, yang diperkeruh permasalahan lainnya, tak mengherankan kalau Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) mengacungkan kedua jempol — tapi terbalik — kepada Mendikbud Nadiem Makarim, sembari menyerahkan rapor merahnya — ketidakbecusan, yang katanya sih, salah satunya akibat kebijakan PJJ-nya ini.

Pembelajaran Jarak Jauh. 55/100

— Federasi Serikat Guru Indonesia

Akan tetapi, memang betul sih, Kemdikbud tetap harus mengevaluasi kebijakan PJJ-nya — terlebih lagi eksekutor dari kebijakannya; bukan hanya kebijakannya sendiri — apalagi kalau terbukti menjadi biang kerok kasus yang membuka tulisan ini tadi.

Tetapi lagi, perlu kita ingat, kasus atau tragedi yang timbul dari kebijakan baru serta polemik yang menyertainya tak perlu diragukan kemunculannya — yang seakan sudah menjadi bagian dari hukum alam. Dan kita memang membutuhkannya, demi kemajuan kebijakan bersangkutan — kemajuan negara kita.

Dalam hal ini, media massa berperan sebagai katalisator pengolahan kasus dan polemik menjadi kemajuan negeri ini. Sedikit yang lebih ampuh, sebagai alat bagi masyarakat untuk memberi rambu-rambu kalau-kalau pemerintah melenceng dari jalurnya — yang menyebabkan kasus dan polemik — dan untuk menyintesis solusi — yang memajukan negeri, daripada media massa.

Akan tetapi, tidak jarang, sorotan media terhadap suatu persoalan, yang tidak diiringi kehati-hatian masyarakat, justru membuat keruh keadaan. Ambillah kasus bunuh diri yang dicap sebagai kegagalan PJJ tadi: dari 4.8 juta siswa/i SMA di Indonesia, hanya satu orang yang diberitakan bunuh diri dengan dugaan stres karena PJJ. Itu sama dengan 0,0000002% dari keseluruhan populasi peserta didik! Tapi seakan-akan kebijakan PJJ, yang jadi tersangka ini, langsung mendapat nilai jeblok.

Tentu, statistika sebenarnya tidak seenteng itu. Aku hanya siswa SMA yang baru juga belajar statistika kemarin. Tapi kalau pun ada yang mau berargumen begini: “Satu orang itu kan yang diberitakan, masih banyak korban lain yang berjatuhan akibat PJJ ini! Belum lagi berbicara soal keluarga korban yang terdampak;” maka tanggapanku, Memangnya sesignifikan itu hingga kita tidak bisa memasukkannya ke margin of error? Kalau pun ya, memangnya PJJ-nya sendiri saja yang bertanggung jawab? Apalagi kalau masih diragukan sangkut pautnya dengan kebijakan satu ini.”

Kalau ada yang berkomentar, “Nggak gitu cara mengevaluasinya! Belajar dulu sana sebelum berlagak pinter!” maka dengan hormat kuserahkan rinciannya kepada mas/mbak statistikawan yang membaca ini; maafkan dan koreksi aku.

Tapi Daniel Kahneman tidak akan repot-repot menulis 76 halaman dari bagian kedua dari bukunya yang berjudul Thinking, Fast and Slow, kalau bukan untuk menjelaskan panjang lebar bahwa, intinya, manusia yang haus akan kausalitas ini memang cenderung acuh tak acuh terhadap statistik yang cenderung random; “Yang penting menarik.”

Bukannya membela secara spesifik; dengan nature manusia sebagaimana diuraikan Kahneman, tak mengherankan kalau kasus A atau tragedi B disangkutpautkan dengan C atau D semena-mena karena memuaskan hati, padahal tahunya tidak ada korelasinya sama sekali, sebagaimana yang mungkin saja terjadi dengan kasus bunuh diri, yang katanya ulah PJJ, sebelumnya.

Terlalu mengabaikan statistik menghasilkan pandangan yang cenderung kurang objektif, kesimpulan yang cenderung melenceng, dan kesalahpahaman yang cenderung menuai polemik.

Jika aku adalah anak SMA yang lebih hebat memanajemen waktu dari yang sebenarnya (saat ini), sedikit lebih serius belajar statistik, dan bisa lebih konsisten membaca dan menulis serta mulai mengikuti course data science-ku, maka aku akan membangun tim penelusur data untuk berbagai kejadian yang ada di masyarakat.

Kami akan mengajukan proposal kerja sama ke redaksi ini dan itu untuk membuat fitur ‘Pojok Data’ atau apalah, di setiap publikasi, yang memampangkan informasi berbasis statistik yang relevan: termasuk persentase terjadinya kasus serupa, sebagaimana sederhananya kudemonstrasikan sebelumnya, supaya pembaca — masyarakat — punya landasan yang objektif untuk menentukan opini mereka.

Kalau di samping itu aku juga dapat menuntaskan course HTML dan web design-ku, maka mungkin aku akan membangun redaksi sendiri yang berbasis statistik dan data: kalau Katadata membahas bisnis dan ekonomi, maka redaksiku akan mengulas sisanya, sedikit demi sedikit, yang terjadi di masyarakat.

Kututup dengan kutipan dari — lagi-lagi; kayaknya memang favoritku — Daniel Kahneman dalam Thinking, Fast and Slow-nya, yang nggak directly nyambung tapi agaknya relevan dan menarik untuk dikontemplasikan:

“We are far too willing to believe that much of what we see in life is random.”

— Daniel Kahneman; Thinking, Fast and Slow

Studies medicine 🧑‍⚕️. Currently writes on health ⛑, education 🧑‍🎓, day-to-day documentaries 📹, with unpopular ideas 💡 along the way. Writes in 🇬🇧🇮🇩

Studies medicine 🧑‍⚕️. Currently writes on health ⛑, education 🧑‍🎓, day-to-day documentaries 📹, with unpopular ideas 💡 along the way. Writes in 🇬🇧🇮🇩