Catatanku: Ikut Olimpiade Kedokteran Gigi Dasar UGM

Sebuah dokumentasi, rekomendasi bahan ajar, dan tips dari peraih medali emas tahun 2020

Sumber: dokumentasi penulis

💡 Tip: Artikel blog ini panjang. Scroll sebanyak yang diperlukan untuk lompat ke bagian yang dibutuhkan.

Prakata

Karena kebagian mempelajari kedokteran gigi dasar—sementara temen satu timku kebagian mempelajari materi biologi SMA dari silabus olimpiadenya—dokumentasi dan rekomendasiku di artikel blog ini difokuskan pada subbidang kedokteran gigi dasar.

Mengenai pengalamanku sendiri di Olimpiade Kedokteran Gigi Dasar (OKGD) ini, sebenarnya sebagian besar dari keseruan mengikutinya berasal dari momen-momen kebingungan mempelajari materi anak kuliahan yang sama sekali asing ini.

Kalo ngingat-ngingat lagi olimpiade tahun lalu, yang berkesan adalah jerih payah nyari sumber belajar yang oke, nyari metode belajar yang pas, dan bertukar kegelisahan sama temen-temen satu timku.

Jadi, kalau pun waktu itu timku nggak menang, kurasa kami akan tetap bersyukur udah ikutan, karena masih ada kenang-kenangan dari semua itu.

Oleh sebab itu, aku sempat ragu menulis blog ini, karena takut malah cenderung menghilangkan kesempatan “bersusah payah” murni tersebut dari temen-temen yang baru mau ikutan di tahun-tahun yang akan datang.

Tapi, mengingat bahwa proses belajarku sendiri waktu itu luar biasa kalang-kabut bahkan setelah menemukan sumber yang oke sekalipun, kukira nggak ada salahnya, sekadar berbagi rekomendasi bacaan dan tips yang kukumpulkan.

Dengan demikian, artikel blog ini lebih ditujukan sebagai referensi, sekadar supaya temen-temen nggak kewalahan dan keburu patah semangat, dengan tetap mempertahankan tantangannya—memilah yang harus dipelajari dari sumber-sumber yang sudah ada—yang sebetulnya bikin seru.

Kuharap, artikel blog ini bisa membangkitkan kepercayaan diri temen-temen, dan supaya semakin banyak yang bisa ikutan OKGD ini.

Foto oleh Firmbee.com (Unsplash)

Metode Belajarku

Sebelumnya, aku ingin menekankan bahwa sekalipun judulnya “kedokteran gigi dasar”, mempelajarinya sebagai anak SMA, terutama secara autodidak, nggak akan se-straightforward itu.

Beberapa pekan pertama persiapanku—dan sebagian waktuku bahkan hingga menjelang babak penyisihan—habis dipakai untuk berburu bahan belajar.

Bagian tersulitnya adalah memilah sumber yang sekiranya reliabel atau nggak, dan yang relevan atau nggak (dengan soal olimpiadenya).

Bahkan setelah lolos babak-babak penyisihan pun, masih banyak materi yang nggak kupahami betul-betul: kurasa lebih banyak beruntungnya ketimbang betulan “pinter”-nya, bahwa timku berhasil lolos.

Yang ingin kukatakan: kalau rasanya membingungkan banget, mempelajari ini semua, tenang aja. Memang begitu, kok.

1. Membuat rencana belajar

Yang pertama kulakukan dengan timku adalah membagi tiga daftar materi yang tertera di silabus, kemudian membuat jadwal belajar kasarku sendiri.

Jadwal belajar ini lebih supaya/untuk:
1). fokus pada materi tertentu dalam satu hari, biar nggak kewalahan; dan
2). mendorongku buat belajar ketika lagi malas, ketimbang untuk beneran mengikuti jadwalnya dengan sempurna.

Jadwal belajar olimpiadeku (perhatikan blok berwarna biru muda saja), sekadar sebagai referensi—gunakan format jadwal belajarmu sendiri sesuai kebutuhan. (Sumber: dokumentasi penulis)

2. Membuat flashcards

Dengan keempat sumber belajarku (yang akan kujelaskan setelah ini), aku mempelajari topik yang udah ditentukan jadwalku sebelumnya.

Awalnya, aku belajar dengan mencatat materi sebagaimana kita lakukan di sekolah, tapi nggak efektif. Kemudian kucoba meng-highlight e-book-ku, nggak efektif juga. Lalu dengan membuat mind map, tetap nggak efektif.

Mind map-ku tentang “Komposit Resin” (biomaterial kedokteran gigi) di OneNote, yang ternyata nggak begitu berguna untuk menghafal. (Sumber: dokumentasi penulis)

Metode-metode tadi berguna supaya kita nggak harus bolak-balik memeriksa seluruh isi buku teks yang udah dipelajari, tapi nggak efektif untuk menghafal atau menjaga agar pemahaman kita nggak hilang.

Akhirnya, aku menemukan metode yang efektif, yakni dengan flashcards. Aku sempat membuat video tutorial menggunakan software Anki Flashcards untuk bikin flashcards kita sendiri:

⭐️ Bonus:
Aku masih menyimpan seluruh flashcards Anki yang kubuat untuk persiapan OKGD ini: sekali pun aku sangat tidak merekomendasikan mempelajari flashcards orang lain, aku bisa kirimkan copy-nya kalau kamu butuh referensi (hubungi aku via kontak yang tercantum di akhir artikel untuk ini).

3. Teknik Feynman

Aku yakin hampir semua orang udah tahu teknik yang sering diatribusikan pada Feynman ini: intinya, mengasah pemahaman dengan menjelaskan/mengajarkan apa yang sedang dipelajari pada orang lain (atau pura-pura demikian, kalau nggak ada orang lain).

Aku menemukan teknik ini lebih efektif ketimbang flashcards untuk topik-topik yang melibatkan tahapan proses yang rumit seperti embriologi gigi (meskipun dalam kasus tersebut, aku nggak menyengaja menerapkan teknik ini, tapi lebih seperti mempelajarinya berulang-ulang dan terpaksa—tanpa sengaja—“menjelaskan” prosesnya pada diriku sendiri agar jelas).

4. Pahami gambaran besarnya

Ketika pertama kali belajar biomaterial kedokteran gigi, aku sangat kebingungan karena buku teksku membombardirku dengan istilah-istilah kedokteran gigi yang asing.

Saranku, kalau pusing dengan istilah-istilah dan tetek benget mendetail lainnya, coba saja dulu baca bagian yang sedang dipelajari sampai beres.

Kalau dibaca berulang-ulang belum kebayang juga, coba buku teks atau sumber lainnya. Kalau sudah lebih paham, balik lagi ke sumber sebelumnya.

Berdasarkan pengalaman, cara belajarku untuk OKGD ini jadi kayak main jigsaw puzzle: ke sana kemari mempelajari secara acak—bagian yang mudah dulu — sambil membentuk gambaran besar topiknya; setelah itu, mengisi “bagian-bagian kosong”-nya jadi lebih mudah.

5. Nggak ada latihan soalnya, ya? Gimana, dong?

Sampai OKGD tahun 2020 kemarin, berbeda dari olimpiade pada umumnya, panitia OKGD memang nggak menyediakan latihan soal dan melarang penyebaran naskah soal (makanya aku sama sekali tidak membahas tipe soal di sini); aku yakin untuk alasan yang baik—supaya menantang, mungkin?

Tapi, antara kita saja ya: kebetulan kutemukan naskah soal penyisihan 1 dan 2 tahun 2017 dari blog lama OKGD saat itu (dan ternyata cukup berguna)!

⭐️ Bonus:
Aku nggak berniat menyebarkan naskah soal tersebut di sini karena panitia juga pasti tidak menginginkan begitu. Tapi, kalau betul-betul butuh, aku bisa kirim soft copy-nya secara langsung (hubungi aku via kontak yang tercantum di akhir artikel untuk ini).

6. Jangan terlalu terpaku dengan pemahaman/informasi dari sumber belajar sendiri

Kalau boleh jujur, banyak sekali materi, terutama biomaterial kedokteran gigi, yang kupelajari kemarin tapi nggak muncul di soal (dan ada juga yang sebaliknya).

Ada pula soal yang, entah karena kurangnya pemahamanku atau bagaimana, rasanya materinya nggak termasuk di silabus.

Kalau kubuat diagram Venn-nya, kurang lebih seperti gambar di bawah:

Persebaran materi kedokteran gigi dasar di OKGD 2020, menurut penulis. (Sumber: ilustrasi penulis)

Tentu saja, ini sangat bergantung pada seberapa dalam/luas yang temen-temen pelajari. Tapi, implikasinya adalah, jangan terlalu terpaku dengan semua yang dipelajari dari sumber yang temen-temen temukan sendiri.

Takutnya, kita memaksakan diri menghafal seluruh isi buku X, ternyata hanya sebagian kecil yang betulan kepake untuk menjawab soal (belum lagi kalau kita ingat bahwa bagaimana pun, soal kedokteran gigi dasar jumlahnya lebih sedikit dibandingkan soal biologi SMA-nya).

Jadi, ya, jangan belajar terlalu sedikit, jangan terlalu banyak juga. Fokus pada materi yang secara eksplisit disebutkan di silabus, dengan sedikit fleksibilitas untuk mendalami detail-detail lainnya yang sekiranya berhubungan atau menarik.

Foto oleh Eli Francis (Unsplash)

Sumber Belajarku

  1. buku teks kedokteran gigi (berbentuk e-book PDF yang ku-download dari Library Genesis*);
    *⚠️ PENTING: Ini website buku bajakan. Sebisa mungkin cari e-book legalnya yang gratis (via Google Books atau website lainnya) terlebih dahulu; kalau mentok, apa boleh buat, barulah ke sini.
  2. jurnal/makalah/skripsi—bagian “Landasan Teori”-nya kadang berguna—mahasiswa atau praktisi FKG yang kucari berdasarkan Google search dari topik tertentu;
  3. video yang kucari berdasarkan topik di YouTube; dan
  4. bahan ajar berbentuk slides di SlideShare yang kucari berdasarkan topik di Google search.

⭐️ Bonus: Untuk poin no. 2—tidak untuk no. 3 dan 4—aku masih menyimpan arsip sebagian dokumen yang sempat kugunakan sebagai bahan belajarku dulu (kalau butuh, hubungi aku via kontak di akhir artikel ini). Tapi, karena berantakan dan tidak terorganisir, aku menyarankan mencarinya sendiri sesuai kebutuhanmu.

⭐️ Bonus: Teman-teman bisa melihat-lihat catatanku (mencakup sebagian materi dental anatomy dan biomaterial kedokteran gigi) sebagai referensi via Microsoft OneNote melalui link berikut:

💡 Tip: Kalau di OKGD-mu masih ada sesi kunjungan ke laboratorium (atau “Virtual Lab Tour”, kalau masih secara daring), pastikan betul untuk merhatikan materi yang dipaparkan; waktu itu, ada materi yang persis sama dari situ yang langsung muncul di babak berikutnya.

Rekomendasi Buku Teks

💡 Tip:
1). Aku menggunakan e-book berbahasa Inggris dari semua judul di bawah ini; apakah ada versi terjemah bahasa Indonesianya, sayangnya, aku kurang tahu.
2). Meski sumber belajarku berbahasa Inggris, sementara soal OKGD berbahasa Indonesia, kebanyakan istilah ilmiah yang digunakan mirip/dapat ditebak.

1. Basic Dental Materials (John J. Manappallil)

💡 Tip: Buku ini juga sering disebut “Jaypee Dental Materials”

Hampir semua topik biomaterial kedokteran gigi yang tercantum di silabus olimpiade tahun lalu kupelajari dari buku ini.

Tiap materi disusun dengan rapi dan jelas—mulai dari deskripsi umum, aplikasi dan metode penggunaanya, karakteristik, hingga kelebihan dan kekurangannya — bikin bukunya enak dipelajari.

2. Phillips’ Science of Dental Materials (Kenneth J. Anusavice)

Buku ini jauh lebih rinci dari Jaypee (buku sebelumnya), tapi justru karena itu pula, menurutku pribadi, agak sulit untuk dapet gambaran besarnya.

Aku merekomendasikan membaca Jaypee terlebih dahulu; kalau nemu topik yang kurang jelas atau tertarik mendalami konsepnya lebih dalam, barulah cek buku yang satu ini.

3. Concise Dental Anatomy and Morphology (James L. Fuller, Gerald E. Denehy)

Sangat kurekomendasikan untuk belajar dental anatomy—terutama seputar morfologi, fisiologi, dan anomali/kelainan gigi—karena pembahasannya ringkas dan to the point.

4. Wheeler’s Dental Anatomy, Physiology and Occlusion (Stanley Nelson, Major M. Ash)

Jauh lebih rinci dan lengkap dibandingkan buku dental anatomy sebelumnya; dilengkapi diagram tiap gigi dengan resolusi tinggi.

Kurekomendasikan untuk mengasah yang sudah dipelajari dari Concise Dental Anatomy and Morphology, terutama untuk mengidentifikasi gigi berdasarkan karakteristiknya—panitia kemungkinan besar menggunakan diagram dari/yang serupa dengan yang ada di buku Phillips ini.

5. Anatomy for Dental Students (Martin E. Atkinson)

Kugunakan untuk mempelajari anatomi mulut dan rahang (cek bab “Head & Neck”), karena topik anatomi OKGD ini fokus pada area tersebut.

6. Orban’s Oral Histology and Embryology (G. S. Kumar)

Hanya kubaca sekilas untuk menambah pemahaman seputar embriologi (pertumbuhan dan perkembangan) gigi, meski sisanya kupelajari dari video di YouTube.

Rekomendasi Channel YouTube

Di samping berbagai video “random”—tidak kuingat nama channel-nya meski sangat membantu—yang kucari berdasarkan topik, berikut beberapa channel yang oke untuk diikuti:

1. Hack Dentistry

Punya banyak tutorial kedokteran gigi dengan visual dan penjelasan yang mudah dipahami. Aku banyak belajar anatomi, embriologi, dan histologi gigi dari sini.

2. Osmosis

Video embriologi gigi dan oklusi (bidang sentuh gigi)-nya sangat membantu.

3. Sam Webster

Punya ratusan tutorial anatomi manusia yang keren banget, diajarkan oleh dosen anatomi yang sangat berpengalaman. Kusarankan untuk nonton bagian anatomi dan saraf mulut.

FAQ (Frequently Asked Questions)

Tip: Bagian ini akan ku-update seiring berjalannya waktu kalau dibutuhkan

Q: Tingkat kesulitan OKGD ini seperti apa?
A: Tanpa sama sekali bermaksud merendahkan, tipe soal OKGD *tahun 2020* lalu jauh lebih simpel dari tipe soal seleksi OSN/KSN (Olimpiade/Kompetisi Sains Nasional) Biologi di tahun yang sama, karena pilihan ganda dan isiannya jauh lebih singkat. Tapi, simpel bukan berarti gampang, karena materi yg dicakupnya sangat luas.

Q: Ada praktikum?
A: Untuk OKGD *tahun 2020*, nggak ada—cek guideline-mu yang terbaru untuk lebih lengkapnya. Semua babak kemarin berformat mengerjakan-soal dan dilaksanakan secara daring karena pandemi COVID-19. Sesi kunjungan ke laboratorium yang sebelumnya selalu dilaksanakan di kampus UGM dimodifikasi menjadi “Virtual Lab Tour” berbentuk video.

Tips Lainnya: Yang Kuharap Kutahu Sebelum Ikut OKGD Dahulu

1. Yang akrab, ya, dengan teman satu timnya

Banyak-banyaklah ngobrol atau bahas soal dengan teman satu timmu. Berdasarkan pengalaman, kalau udah enak dan seru sama temen setimnya, aku merasa lebih semangat dan olimpiadenya jadi jauh lebih berkesan.

2. Titikberatkan untuk nyari pengalaman ketimbang jadi juara

Cuma beberapa tim yg akhirnya meraih medali. Sedangkan pengalaman, semuanya pasti dapet, asalkan dimaksimalkan:

Timku, karena teledor, sempat daftar olimpiade lainnya yang ternyata babak penyisihannya agak berbentrokan dengan babak semifinal OKGD.

Karena udah keburu bayar, kami “iseng” tetep ngerjain soal penyisihan yang satu itu sambil nunggu pengondisian semifinal OKGD beres—jangan ditiru ya 😆—lalu, dengan otak udah panas, lanjut semifinal OKGD.

Tentu saja, olimpiade yang lain tadi nggak lolos, tapi, berhasil lolos semifinal OKGD sembari sempat “multitasking” ngerjain olimpiade lain tersebut, bikin pengalaman tadi jadi jauh lebih berkesan.

Kami juga pernah dapet soal semifinal OKGD berupa gambar palu refleks, tapi karena nggak kepikiran, malah jawab “palu ketok” (apa-apaan, ya? 😂)

Tapi, filosofiku, jangan sungkan ngisi jawaban yang lebih konyol sekali pun: kalau pun salah—dan skornya nggak jadi minus—seenggaknya bisa jadi hiburan buat panitia yang meriksa jawaban 😆.

3. Jangan terhambat karena bingung mencari metode belajar yang pas

Salah satu yang membuatku sempat menunda-nunda mempersiapkan OKGD ini adalah kebanyakan memikirkan/mencari berbagai metode belajar yang pas tanpa mencoba satu pun terlebih dahulu.

Langsung “terjun” dulu saja dengan metode belajar seadanya. Kita selalu bisa meng-course-correct metode kita seiring berjalannya waktu.

4. Jangan nyerah mempelajari materi sesulit apa pun (kecuali memang nggak ada waktu lagi)

Aku sempat sangat kesulitan memahami dan menghafal proses pertumbuhan dan perkembangan gigi. Tapi, karena terpampang jelas di silabus, kupaksakan untuk nonton video penjelasan terbaik yang kutemukan berulang-ulang.

Siapa sangka, berkat pengulangan tadi, sekali pun nggak lancar, hafalan proses embriologi gigiku tersebut masih lebih oke ketimbang tim yang lain dan jadi poin besar—literally—untuk kami.

5. Jangan takut salah menjawab

Waktu itu, ada finalis yg clueless dan jawabnya sering “ngaco”.

Tapi, ya, nggak apa-apa juga: dari sudut pandangku sebagai tim lawannya sekalipun, aku justru memunculkan respek atas kepercayaan dirinya; nggak jadi memandang rendah atau gimana.

Selain itu, banyak banget jumlah soal babak final yang kusesali karena kulewat karena takut salah: ketika dilempar ke tim lain, jawabannya sama dengan yang kuragukan, dan ternyata benar, kok.

Kemudian, terutama untuk soal isian/cerdas cermat yang kompleks, jawaban kita nggak harus sempurna, kok: juri/penilai jawabannya terbukti baik-baik dan mungkin akan menoleransi kalau hanya meleset sedikit (tentu, tergantung tipe dan konten soalnya juga, ya).

6. Jangan minder sama tim dari “sekolahan elit”

Tiap olimpiade di bidang apa pun, ada aja sekolah anu yang ngirim setengah lusin tim yang berbeda dan, kalau kita lihat dokumentasi tahun-tahun sebelumnya, selalu terpampang namanya sebagai juara.

Mereka patut diapresiasi, tapi bukan untuk ditakuti (dan kalau kebetulan kamu yang berada di posisi siswa “elit” ini, jangan terbawa suasana juga, ya).

Di babak finalku yang lalu, aku sempat deg-degan menghadapi satu tim lawan—Tim B, aku masih ingat betul—yang berasal dari salah satu “sekolah elit” macam itu.

Nggak cuma tampangnya yang cool, ketua Tim B ini juga ketika menjawab soal, rasanya cepet banget dan selalu bener.

Tapi, menjelang pertengahan babak, yang berformat cerdas cermat pertanyaan rebutan itu, entah kenapa, “pergerakan” Tim B mulai surut dan tim-tim lain yang tadinya “nggak meyakinkan” justru menanjak terus di papan skor.

Kalau ada satu yang secara tidak langsung kusadari berkat OKGD tahun 2020 lalu adalah se-“elit”, se-“cool”, atau se-“ambisius” apa pun peserta-peserta olimpiade yang lain kelihatannya, pada akhirnya, mereka sama-sama anak SMA kayak kita yang sama-sama masih belajar.

⭐️ Bonus: Cek tips seputar ikutan olimpiade lainnya di artikel blogku sebelumnya:

Semoga artikel blog ini cukup jelas dan bermanfaat, dan semangat untukmu yang sedang berjuang di Olimpiade Kedokteran Gigi Dasar UGM!

Tertarik berdiskusi lebih lanjut? Hubungi aku via Instagram: @ansharihasanbasri atau Twitter: @Anshari_H

Studies medicine 🧑‍⚕️. Currently writes on health ⛑, education 🧑‍🎓, day-to-day documentaries 📹, with unpopular ideas 💡 along the way. Writes in 🇬🇧🇮🇩

Studies medicine 🧑‍⚕️. Currently writes on health ⛑, education 🧑‍🎓, day-to-day documentaries 📹, with unpopular ideas 💡 along the way. Writes in 🇬🇧🇮🇩