Kemajuan IPTEK, Banjir Informasi, dan Kesalahan Pelajar Ketika Nugas

Bejibunnya Informasi. Foto oleh Matthew Guay dari Unsplash

Kesalahan pertama seorang anak SMA, yang ditugaskan membuat materi “pengaruh kemajuan IPTEK terhadap NKRI” dalam pelajaran PKn-nya, adalah beneran ngejelasin satu per satu pengaruh kemajuan IPTEK terhadap NKRI.

Itu opiniku, yang akan kubahas di tulisan ini — sekaligus submission-ku buat tugas tersebut karena aku bisa milih nulis artikel, lol.

Kalo jaman dulu sih, wajar aja para pelajar lebih ditekankan buat bisa bikin dan menyampaikan kembali materi tentang ini itu secara formal dan terperinci, supaya kaum terpelajar ini bisa menyebarluaskannya — ilmu yang nggak bisa dipelajari mereka yang nggak sekolah — di masyarakat.

Sekarang? Semuanya — kira-kira kalau kusimpulkan — bilang, “Dengan kemajuan IPTEK yang berpengaruh terutama dalam aspek sosial budaya dan pendidikan, kini kita punya akses informasi yang tak terbatas.”

Implikasinya? Nggak harus jauh-jauh ke Inggris, ketika kamu bisa nonton dosen Oxford University ngasih kuliah kalkulus di YouTube. Nggak harus menempuh ribuan kilo kayak Imam Bukhari cuma buat ngecek kredibilitas hadits, ketika referensi buat tugas makalah kita tinggal one google search away. Nggak harus bikin video beranimasi ngebahas dampak kemajuan IPTEK, ketika semua orang di dunia udah merasakannya sendiri — udah nggak perlu lagi penjelasan-penjelasan formal mah.

Tugas kita sebagai kaum terpelajar di akhir zaman ini agaknya bukan lagi menghujani masyarakat dengan informasi — kita udah kebanjiran informasi. Tugas kita sekarang adalah membagikan pelampung — pola pikir kritis — supaya masyarakat nggak hilang kendali dan malah tenggelam atau hanyut dalam dampak kemajuan IPTEK — arus informasi yang nggak ada hentinya ini.

Sayangnya, yang sebagian besar dari kita lakukan sekarang, termasuk ngerjain tugas sekolah — yang sering kali kebanyakan merangkum, mempresentasikan, atau menjelaskan sesuatu lewat video yang cuma menuh-menuhin YouTube; sembari melupakan unsur mengevaluasi atau menganalisis (pelajaran PKn-ku satu ini nggak termasuk ya, toh buktinya lewat tulisan ini aku udah kehitung nugas) — seadanya, malah kontraproduktif terhadap tugas yang kusebutkan di paragraf sebelumnya.

“Lha tapi kan disuruhnya cuma bikin video materi ini, presentasi topik itu, makalah permasalahan anu?” Weits — daripada repot-repot mengomeli sistem penugasan di sekolah yang kontraproduktif; nggak ada gunanya juga — banyak kok celah buat menyisipkan nilai-nilai kritis di tugas sekolahmu, biar tugas sekolahmu bernilai lebih — bukan sekadar angka di buku rapot.

Oleh sebab itu, di sinilah aku berada; memanfaatkan tugas PKn-ku sekaligus mengoptimalkan dampak kemajuan IPTEK terhadap diriku pribadi, yang memudahkanku menuliskan opiniku, dengan harapan siapa pun yang membaca ini bisa sadar bahwa waktunya yang berharga, alih-alih terbuang untuk sekadar membuat presentasi yang udah diketahui semua orang, lebih baik digunakan untuk memanfaatkan tugas sekolahnya itu sekalian untuk membahas permasalahan yang beneran ada di masyarakat.

Studies medicine 🧑‍⚕️. Currently writes on health ⛑, education 🧑‍🎓, day-to-day documentaries 📹, with unpopular ideas 💡 along the way. Writes in 🇬🇧🇮🇩