Mari Mengobrol Tentang Karier

Foto oleh Estée Janssens dari Unsplash

Disclaimer: 1). Tulisan ini kesannya menceramahimu, tapi ketahuilah penulis juga berjuang menerapkan apa yang ia tulis dan sama sekali tidak bermaksud menggurui. “Mari berbagi pikiran,” katanya. 2). Penulis inginnya mengendapkan tulisan ini setidaknya seminggu, tapi nanti idenya kelamaan buat tersampaikan. “Jadi maklumi saja segala kekurangan dan mari saling mengkritik karena tulisan ini sendiri merupakan kritik,” katanya. 3). Penulis bahkan belum lulus SMA, “Jadi mana mungkin bisa menulis soal karier?!” katamu. Tapi janganlah menjadi imbesil; nikmati saja obrolan ini.

Enak ya, kalau udah nemu cita-cita atau karier impian. Kalau ditanya, “Siapa mau masuk … ITB? UGM? UI?” sama MC waktu dikumpulin di aula sekolah buat sosialisasi bimbel anu, kamu bahkan nggak perlu capek-capek mengacungkan tangan karena kamu sibuk memikirkan cara memanfaatkan waktu yang terbuang sia-sia cuma buat dengerin motivasi yang udah nggak kamu butuhkan. Ditambah, mungkin kamu udah kursus di sana. Satu-satunya yang bisa membuatmu memakluminya cuma roti isi jagung yang kamu dapatkan — sebagai rasa terima kasih dari pihak bimbel atas partisipasimu— itu pun kalau ada.

Tapi buat sebagian yang lain, motivasi si MC justru nggak cukup atau terlalu mainstream untuk bisa memotivasi mereka. Boro-boro berjuang menghadapi UTBK, cita-cita aja belum ketemu. “Aku udah ikut tes minat bakat sepuluh kali! Aku udah berusaha mencari jati diriku! Tapi nggak ketemu ya nggak ketemu.” kata mereka sambil merasa nggak tau mau kerja apa nanti. Tapi boro-boro mikirin itu pelan-pelan, waktu mereka keburu habis sama tugas sekolah yang menumpuk.

“… terus, kita harus gimana?”

Logikanya sederhana: kamu ingin sukses berkarier. Kata KBBI, “karier adalah pekerjaan yang memberikan harapan untuk maju.” Kalau definisi dari ‘harapan untuk maju’-mu adalah harta kekayaan, maka kamu harus bekerja dan menghasilkan sesuatu yang senilai dengan uang yang ingin kamu dapatkan. Kalau definisimu adalah berkontribusi di masyarakat, maka kamu juga harus memberikan sesuatu yang bernilai bagi masyarakat. Apapun visimu, kunci dari karier yang sukses adalah menghasilkan sesuatu yang bernilai, suatu yang valuable.

Bukan, bukan nilai dengan skala nol sampai sepuluh atau seratus di buku rapot akhir semestermu; tapi manfaat yang bernilai yang kamu hasilkan, entah bagi dirimu sendiri, entah bagi masyarakat. Sebelum menentukan karier impianmu, tentukan nilai atau value yang ingin kamu hasilkan.

Contohnya, Aku ingin membantu orang hidup sehat dan sembuh dari penyakit. Nggak apa-apalah klise. Itu value yang ingin kuberikan buat masyarakat, jadi kuputuskan akan menjadi dokter.

Duduklah sejenak. Sekarang giliranmu menentukan.

Yea, menentukan value yang ingin kamu hasilkan suatu saat nanti nggak selalu mudah. Terlalu luas dan samar. Buat mem-bypass kendala itu, konsultan pendidikan akhirnya memberimu tes minat dan bakat, karena dua hal tersebut bisa jadi alternatif penentuan karier impianmu tanpa perlu repot-repot menentukan tujuan hidupmu, yang mungkin baru kamu temukan seiring berjalannya waktu.

Berbicara soal minat dan — lebih tepatnya atau — bakat, orang berdebat apakah kamu harus mengikuti minat/passion-mu apapun yang terjadi, atau lupakan saja passion dan fokus dengan bakat (mulai dari sini aku juga mengacu pada ‘kemampuan’ setiap berbicara soal ‘bakat’) yang sesuai dengan lowongan kerja, entah kamu suka atau tidak. Solusinya sederhana: bukan masalah yang mana, tapi soal keseimbangan dan keadaanmu gimana.

Nggak semua orang punya passion di bidang komputer yang menjamin kebahagiaan mereka bekerja di NASA atau passion bermain basket yang menjamin mereka karier atlet. Kamu mungkin bergairah saat bermusik, tapi hey, sudahkah kamu memperhitungkan persainganmu dengan anak 7 tahun — prodigy — di Instagram yang udah jauh lebih jago main gitar darimu saat ini? Apa yang membuat musikmu menonjol dan bernilai lebih buat penontonmu? Dan asal kamu tahu, passion bisa berubah-ubah, bisa juga dipengaruhi faktor lain. Mungkin kamu tiba-tiba tertarik berbisnis kopi karena ngeliat kedai kopi kakakmu atau orang lain yang kamu admire. Tapi yang menarikmu itu berbisnis dan bikin kopinya, atau sekadar punya bisnis kopi dan mendapat komentar, “Wah keren ya punya bisnis kopi”?

Di sisi yang lain, mungkin lowongan kerja ala salaryman relatif praktis untuk di-apply daripada membangun bisnis atau perusahaan impianmu. Tapi kamu nggak akan mencapai kualitas hidup yang utuh kalo cuma pergi pagi pulang malam mengejar deadline tugas administratifmu, sampai kamu lupa dengan impianmu sesungguhnya. Semangatmu menggebu-gebu karena online shop alat tulismu sedang ramai orderan. Tiba-tiba kamu kena tipu oleh supplier barang jualanmu yang berhasil menggandeng kepercayaanmu demi keuntungan mereka sendiri. Kecuali kamu punya passion entrepreneurship yang murni, yang justru bikin kamu semangat belajar dari kesalahan, kamu hanya bisa melihat kerugianmu.

Yang kuutarakan di atas adalah argumen-argumen dari setiap sisi ekstrem, di mana yang satu berteriak, “Don’t follow your passion!” dan yang lain berteriak, “Follow your passion!” Tapi kamu pasti sadar, terutama kalau kamu awalnya merasa setuju atau tidak setuju dengan sebagian dari argumen di atas, bahwa ada jauh lebih banyak hal yang harus dipertimbangkan ketika berbicara soal passion/minat dan bakat/kemampuan.

Yang ingin kukatakan, kalau kamu ingin berkarier dari passion-mu, pertimbangkan apakah passion-mu bisa menghidupimu, berapa peluangmu untuk bisa bersaing dengan orang-orang di bidang yang sama, dan apakah passion-mu itu betul-betul passion dan bukan sekadar ketertarikan sementara.

Dan kalau kamu merasa pekerjaan itu hanya soal mencari nafkah dan passion itu ada hanya sebagai hobi, jangan lupa bahwa sebagian besar hidupmu akan habis untuk bekerja. Kalaupun kamu terpaksa terkekang oleh pekerjaanmu yang membosankan saat ini, buatlah menyenangkan. Bertaruh dengan alam semesta bahwa kamu masih hidup sampai mendapat jatah pensiunmu di umur 60, berharap tinggal menikmati hari-hari santaimu, menurutku juga bukan pilihan yang bijak.

Kembali pada obrolan tes minat dan bakat; tes minat dan bakat dirancang untuk menggali dan memadukan minat dan bakatmu untuk menggambar karier yang paling cocok untukmu. Dan pada akhirnya, semuanya harus seimbang. Pahami minatmu dan pahami bakatmu. Pertimbangkan seluruh aspek kehidupanmu dalam menentukan karier.

Selain itu, ingat, bukan hanya soal sukses dengan bakatmu atau bahagia dengan passion-mu. Tujuanmu adalah sukses dan bahagia dengan kariermu.

Maka yang penting, kamu passionate dengan kariermu. Entah kamu menjadikan passion-mu sebagai karier, entah kamu menjadikan kariermu sebagai passion.

Gimana kalo kita nggak nemu minat atau bakat kita? Well, kamu nggak akan berminat menikahi seseorang kalo kamu belum betul-betul kenal orang tersebut. Tukang kebun nggak akan berbakat — punya kemampuan — berkebun kalo belum betul-betul mencoba dan berlatih berkebun.

Explore semua hal yang bisa kautemukan. Ngobrol sama orang yang berpengalaman di bidang mereka masing-masing, entah itu seniormu yang kuliah di jurusan anu atau tantemu yang seorang psikolog itu. Kalau sekilas bidang tersebut menarik, gali lebih dalam; kalau belum menarik, galih jauh lebih dalam.

Bahkan menurut hipotesisku, apapun, asal kaupelajari hingga kedalaman yang tepat, pasti menarik. Karena semuanya ada seninya.

Semua orang punya passion, tapi untuk menemukannya, butuh eksplorasi.

Nggak cuma soal passion, kemampuan juga perlu diasah. Belajarlah berbagai kemampuan. “Ah tapi Aku nggak berbakat di bidang ini,” katamu. Hey kamu yang katanya bimbel tiap hari buat belajar UTBK, ingat bahwa teori use and disuse-nya Lamarck — mengimplikasikan kemampuan yang dilatih individu selama hidupnya akan diwariskan ke keturunannya — itu udah sejak lama dibantah dan kita tahu DNA nggak bikin kode ‘pebasket’ atau ‘seniman’. Jacob Collier nggak dilahirkan sebagai musisi; melainkan dilahirkan di kamar yang penuh sama alat musik yang ia eksperimentasikan tiap hari. Bakat bukan lagi bahan justifikasi. Kita bicara soal lingkungan dan pengalaman, yang membawa kita ke persoalan berikutnya.

Ada yang dibacain ensiklopedi sebelum tidur sama orang tuanya sedari kecil. Ada yang harus telat tiap pagi karena jualan dulu di stasiun menggantikan ibunya yang mengasuh adiknya yang masih kecil. Tapi pemerintah udah berusaha kok menerima siswa baru di sekolah dengan berbagai jalur yang sesuai dengan keadaan mereka.

Intermeso tentang kesamarataan pendidikan: kadang suka ada ya, yang ngomel-ngomel kebijakan pemerintah masih belum bisa memberantas masalah pendidikan di kalangan tidak mampu. Tapi hey, sebelum protes ke sana kemari, pastikan dulu kamu udah memanfaatkan kesempatan pendidikanmu sendiri. Toh kalau kamu sebegitu prihatin sama kesenjangan pendidikan dan dirimu betul-betul berpendidikan, kamu pasti memilih menggunakan akun Facebook-mu untuk menggalang dana dan bikin proyek pendidikan impianmu ketimbang ngomel kayak begitu.

Balik ke topik kita; pihak kesiswaan repot-repot merazia kelengkapan seragam, karena katanya sih seragam memberikan kesan kesamarataan di antara pelajar — derajat kita semua sama sebagai pelajar di sekolah.

Sekalipun angan-anganku terhadap personalized education belum bisa direalisasikan dalam sistem yang mau tak mau penuh generalisasi ini, aku yakin setiap siswa tetap bisa merasakan fasilitas yang sama di sekolah yang sama. Artinya, baik kamu anak pejabat maupun anak keluarga melarat, kamu tetap bisa belajar sebanyak-banyaknya di sekolah.

Sebagian dari kamu pasti bilang kan, “pelajaran akademik sekolah nggak worthy untuk dipelajari!” Jadi, pake tahun pertama dan kedua di SMA buat utuk eksplorasi di sekolah. Orang yang ikut seribu ekskul bukan orang yang nggak ada kerjaan. Mereka justru berusaha meng-explore dan menyerap sebanyak mungkin minat atau bakat baru yang bisa mereka asah ke depannya. Gunakan kesempatanmu selagi bisa.

Dan ketahuilah, kita dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan berbeda. Tugas kita adalah memaksimalkan potensi masing-masing, mencapai idealisme masing-masing di tengah segala kemudahan maupun kesulitan yang kita hadapi masing-masing; tanpa repot-repot membandingkannya dengan orang lain.

Nentuin karier impian atau cita-cita itu nggak mudah bagi sebagian besar orang. Tapi ingat kata KBBI, “karier adalah pekerjaan yang memberikan harapan untuk maju.” Tentukan definisi ‘harapan untuk maju’-mu. Entah itu mengejar harta dan pangkat atau memberantas derita dalam masyarakat, intinya adalah menghasilkan sesuatu yang bernilai/valuable. Tentukan definisi ‘nilai’ atau ‘value’ tersebut bagimu dan jadikan itu acuan hidupmu.

Kalau terlalu sulit, lihat dari sudut pandang minat atau bakatmu. Kembangkan dulu keduanya dengan mengeksplorasi berbagai hal, baru tentukan mana yang paling oke buatmu dengan mempertimbangkan seluruh aspek kehidupanmu. Tujuanmu adalah working passionately. Nggak masalah passion-mu menjadi kariermu atau kariermu menjadi passion-mu.

Meniti karier itu kayak jalan-jalan di hutan: siapkan kompas dan peta sebelum menjelajahi hutan. Kalo kamu tersesat dan lupa membawa keduanya, atau kamu membawanya tapi rusak, diam di tempat dan pikirkan cara terbaik untuk keluar atau memanggil tim penyelamat. Kalau masih tidak bisa, daripada mati di tempat, tetapkan satu arah yang paling masuk akal dan berjalanlah dengan konsisten. Entah berapa lama sih, tapi dengan kegigihan, sedikit improvisasi dalam perjalanan, dan doa sambil menghibur diri sendiri; kamu pasti keluar, karena hutan tidak memenuhi seluruh permukaan bumi; kecuali kamu mati dalam perjalanan — sesuatu yang sama sekali di luar kendalimu.

Saat itu, tidak lagi penting di mana kamu ketika keluar dari hutan. Toh seburuk-buruknya situasi, kata Aa Gym:

“Kalau nasi sudah menjadi bubur, terima saja; sambil cari ayam, cakue, kecap, sambel, dan kerupuk.”

Studies medicine 🧑‍⚕️. Currently writes on health ⛑, education 🧑‍🎓, day-to-day documentaries 📹, with unpopular ideas 💡 along the way. Writes in 🇬🇧🇮🇩

Studies medicine 🧑‍⚕️. Currently writes on health ⛑, education 🧑‍🎓, day-to-day documentaries 📹, with unpopular ideas 💡 along the way. Writes in 🇬🇧🇮🇩