Menuju Salat yang Lebih Fokus

Tiga saran dari buku self-help yang kucomot dan ternyata bisa bikin salat kita lebih fokus.

Foto oleh David Monje (Unsplash)

Mengadopsinya sebagai identitas

“If we want to motivate green behavior in others, we would be wise to focus more on strengthing a person’s identity as someone who cares about the environment, and less on giving people the opportunity to buy the right to melt the polar ice caps.”

— Kelly McGonigal, The Willpower Instinct

Kalau kita mau memotivasi diri kita sendiri buat fokus dalam salat, fokuslah menguatkan identitas kita sebagai seorang ahli ibadah, bukan sesuatu seperti mengatakan pada diri kita sendiri bahwa salat itu sesuatu yang mudah.

Kalau mengikuti kata sebagian guru agama, “Salat cuma lima menit! Abis itu lanjut lagi bebas mau ngapain,” kita justru cenderung memburu-buru salat, dan terkadang malah menjadikan salat sebagai justifikasi dari kelalaian kita yang lain, “Ah, salat dulu lima menit, abis itu maksiat lagi.”

Gimana caranya mengadopsi salat sebagai bagian dari identitas kita? Dengan menjadikannya kegiatan utama kita: pelajar serius dalam belajar, karena itu kegiatan utama mereka sekaligus identitas mereka; peneliti serius melakukan percobaan hingga nggak tidur, karena itu kegiatan utama mereka sekaligus identitas mereka; ustad serius dalam beribadah, karena itu kegiatan utama mereka — mengajarkan dengan mencontohkannya — sekaligus identitas mereka.

Akan tetapi, yang semestinya berprinsip demikian bukan hanya ustad; tugas manusia di bumi adalah untuk beribadah. Pekerjaan pun ibadah. Menurut sudut pandang ini, kegiatan utama kita adalah beribadah. Dan identitas kita pada hakikatnya adalah ahli ibadah.

Kalo mati-matian kerja atau belajar aja ujung-ujungnya untuk beribadah, kenapa nggak kita seserius itu buat salat yang jelas-jelas ibadahnya?

Memberikan atensi yang sesuai

Sönke Ahrens menjelaskan dalam How to Take Smart Notes-nya, bahwa penulis yang profesional memberikan perhatian yang sesuai dengan yang sedang dikerjakannya: menuangkan pikiran apa adanya ketika membuat draf, memasang “lensa” kritis ketika merevisi argumennya, dan berpikir lewat sudut pandang pembaca untuk memastikan tulisannya masuk akal.

Semuanya butuh jenis perhatian yang berbeda supaya hasilnya optimal.

Kita bisa belajar dari konsep ini bahwa untuk salat dengan fokus, kita juga harus memberikan jenis perhatian khusus, dan yang menurutku efektif, adalah dengan memberikan perhatian terhadap salat sebagai seseorang yang lagi berdoa — emang itu sih, tujuannya.

Yang kumaksud adalah, kalau kita lebih memerhatikan bacaan-bacaan salat dan membacanya sambil membayangkan sedang menyampaikan permohonan serius kepada Allah, aku yakin salat kita lebih fokus.

Fokus mendengar bacaan imam sambil nggak mikir apa-apa itu sulit; fokus memerhatikan dan membaca bacaan salat seakan — emang sih — sedang membuat permohonan dengan itu, agaknya lebih mudah dan efektif.

Hindari self-criticism

Kadang-kadang ayahku suka menyalahkan diri sendiri, “Kok susah betul ya, salat khusyuk?” Tapi self-criticism itu sendirilah, yang biasanya terlintas ketika sedang salat, yang bikin sulit, karena ketimbang mengalihkan perhatian kita ke bacaan salat, kita justru kepikiran betapa sulitnya salat khusyuk.

Kalau minta saran untuk memulai meditasi dari buku self-help mana pun, pasti salah satunya adalah untuk nggak mengkritisi diri sendiri dan membiarkan kegagalan fokus kita berlalu, supaya sekarang kita bisa fokus. Salat nggak jauh beda dari itu.

Kalo sewaktu-waktu susah banget buat fokus dalam salat, mari ingatkan diri kita bahwa salat adalah identitas kita, bahwa kita sedang membuat permohonan lewat salat kita, dan bahwa self-criticism hanya membuatnya lebih sulit.

Studies medicine 🧑‍⚕️. Currently writes on health ⛑, education 🧑‍🎓, day-to-day documentaries 📹, with unpopular ideas 💡 along the way. Writes in 🇬🇧🇮🇩

Studies medicine 🧑‍⚕️. Currently writes on health ⛑, education 🧑‍🎓, day-to-day documentaries 📹, with unpopular ideas 💡 along the way. Writes in 🇬🇧🇮🇩