Resolusi 2021-ku dan Bagaimana Aku Ingin Indonesia Ikut Menerapkannya

Dua prinsipku untuk 2021 yang lebih baik.

Ekstremitas bukan cara yang tepat.

2020-ku dijejali ide-ide baru agar produktivitasku tak terbatas.

Capek dengan belajar yang nggak efektif, aku beralih dari mencatat di buku tulis Big Boss ke Microsoft OneNote di tabletku; enak banget bikin mind map di sana. Saat itu, aku yakin mind map adalah satu-satunya cara terbaik untuk belajar.

Salah satu mind map-ku di Microsoft OneNote

Tapi, belum lama, ketemu lagi metode belajar yang terbukti lebih efektif. Seketika, aku tergila-gila dengan metode yang menggunakan software Anki Flashcards; bahkan kubuat tutorialnya di YouTube Oktober lalu.

Kupikir itu puncaknya, sampai baru-baru ini, aku nemu RemNote, software yang bisa ngubah apapun yang kita ketik langsung jadi flashcard dalam sekejap — memanfaatkan metode sebelumnya, tapi jauh lebih efisien. Software sebelumnya hampir nggak lagi kupakai.

Kita bisa lihat bagaimana aku gonta-ganti software untuk nyatet pelajaran dan gimana aku selalu menganggap hal baru yang kutemukan sebagai yang terbaik.

Akhirnya aku sadar: kalau aku berlebihan menyukai software yang satu dan menutup mata pada yang lain, mungkin aku nggak akan nemu software-software keren lainnya; mungkin aku masih nyatet di Big Boss-ku.

Aku nggak lagi menganggap sesuatu yang baru (atau sudah ada) sebagai yang terbaik, karena pasti ada kelemahan yang dapat diimbangi oleh yang lain. Aku nggak lagi bergantung pada sesuatu secara berlebihan.

Mulai 2021, kalau aku mendapati diriku mengarah pada apapun yang berlebihan, baik secara positif maupun negatif, aku tahu ada yang “kurang oke”; aku merekalibrasi diriku sendiri dan kembali ke posisi netral.

Debat Direktur YLBHI Asfinawati dan Menkominfo Johnny G. Plate mengenai hoax seputar UU Cipta Kerja Oktober lalu cukup sengit; selama masing-masing tetap di ekstrem yang berlawanan, nggak akan beres. Entah jika memang harus demikian.

Tapi, kalau seenggaknya “yang-berlebihan-itu-tidak-baik” diterapkan pada emosi para “tokoh” negara seperti mereka, debat macam itu bisa lebih kondusif dan wibawa mereka nggak akan hilang begitu saja. Tentu, gampang kukatakan begini; jika aku di posisi mereka, mungkin nggak ada bedanya. Tapi justru karena itulah, itu perlu dilatih dan dibiasakan.

Mencatat, belajar, dan bereksperimen dari masa lampau

Dari puluhan video YouTube hingga sejumlah paper ilmiah yang kuterapkan seputar ‘tidur’, sampai dua-tiga bulan lalu aku masih saja gagal mendengar alarmku dan bangun tidur rasanya nggak pernah segar.

Akhirnya, aku cenderung menduga-duga dan “menyimpulkan” sendiri penyebabnya berdasarkan ingatanku sendiri terhadap apa yang kualami. Barulah ku-“riset” — memburu informasi yang mendukung — hasil “kesimpulan” tersebut dan menolak apapun yang menentangnya.

Tapi, akhirnya aku sadar pendekatanku cacat karena dua hal: 1. ingatan manusia nggak reliabel, sehingga “kesimpulanku” yang berasal dari sana pun nggak reliabel; dan 2. aku terlalu takut gagal hingga menghabiskan terlalu lama untuk memikirkan ketimbang mencoba solusi yang kutemukan.

Jadi, kuubah pendekatanku: aku menghabiskan sebagian besar waktuku bereksperimen dengan “solusi” yang kutemukan, mencatatnya, dan baru membuat kesimpulan berdasarkan catatan tersebut.

Aku mulai bereksperimen dengan durasi tidur: mencatat pukul berapa dan berapa lama aku tidur. Kuanalisis catatan tersebut: mana yang harus dipertahankan dan mana yang harus diubah — dieksperimentasikan lagi.

Entri jurnal tidurku (25 September 2020)

Banyak yang kuotak-atik selama dua-tiga buan terakhir, tapi singkat cerita, berkat eksperimen itu, aku bangun tidur tanpa alarm dan rasanya segar.

Mulai 2021, aku rajin mencatat aktivitasku dan belajar dan bereksperimen dari sana sebelum menduga-duga apalagi menyimpulkan sesuatu.

Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) menyerahkan “rapor merah” pada Mendikbud Nadiem Makarim atas dugaan bahwa Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ)-nya menyebabkan seorang siswi SMA stres dan bunuh diri. Psikolog anak dan pengamat pendidikan terus diundang ke TV-TV, bercerita panjang lebar yang ujungnya mendukung dugaan tersebut.

Namun, betulkah demikian? Bukti-bukti yang kemudian ditemukan malah mengindikasikan penyebab lain yang bahkan nggak berkaitan dengan PJJ.

Kalau saja pihak yang bersangkutan tidak buru-buru mencetuskan dugaan macam itu dan sejenak saja “bereksperimen” — melihat catatan kasus lampau dan menganalisis bagaimana itu bisa membantu pemecahan kasus yang sekarang ini — *sebelum* menyimpulkan apa-apa, mungkin kasus itu nggak akan dibuat rumit oleh kehebohan yang tidak perlu.

Ada satu lagi yang kupelajari dari 2020: mengubah orang lain (apalagi negara ini) menjadi lebih baik itu sangat tidak realistis; umur kita nggak akan kesampaian.

Tapi, seenggaknya kita bisa jadi rakyat Indonesia yang lebih “baik” dan nggak menambah beban pemerintah yang udah kewalahan mengurusi rakyat yang belum begitu “baik”.

Studies medicine 🧑‍⚕️. Currently writes on health ⛑, education 🧑‍🎓, day-to-day documentaries 📹, with unpopular ideas 💡 along the way. Writes in 🇬🇧🇮🇩

Studies medicine 🧑‍⚕️. Currently writes on health ⛑, education 🧑‍🎓, day-to-day documentaries 📹, with unpopular ideas 💡 along the way. Writes in 🇬🇧🇮🇩