Saya Kesulitan Menyesali Kepergian Ramadan

Apakah saya tidak pantas menjadi muslim?

Berakhirnya Ramadan beberapa waktu lalu ramai dengan penyesalan akan ibadah yang belum maksimal.

Penyesalan ini terjadi di bulan Ramadan tiap tahunnya, nggak peduli semenyesal apa kita di Ramadan sebelumnya.

Kalau begitu, apakah penyesalan ini benar-benar berarti?

Perubahan Butuh (Jauh Lebih Banyak) Waktu

Saya rasa, ekspektasi kita terhadap Ramadan sering kali berlebihan.

Kita sering berpikir bahwa setelah tiga puluh hari berpuasa, membaca Quran, dan salat tarawih/tahajud, semuanya akan jadi mudah; seakan kita sudah mencapai puncak ketakwaan.

Sehingga, kalau di penghujung Ramadan kita masih kesulitan melaksanakan ibadah tertentu, tentu kita langsung merasa “gagal”.

Kita sering menyebut Ramadan sebagai “bulan pelatihan”, sehingga di hari ketiga puluh, kita pikir kita layak menerima “sertifikat kecakapan ibadah” atau “ijazah ujian ketakwaan”.

Tapi, pernah nggak sih kita bertanya-tanya, “Cukupkah tiga puluh hari menjadikan kita bertakwa?”

Orang-orang yang ahli dalam bidangnya akan bilang, butuh bertahun-tahun untuk mencapai keahlian mereka saat ini.

Matt D’Avella, Youtuber dan suhu para pecandu produktivitas, misalnya, punya “The Three Year Rule”: butuh tiga tahun untuk membangun konsistensi dalam berkarya.

“Roma tidak dibangun dalam sehari,”

“Orang nggak jadi sukses dalam satu malam,”

“Sepuluh ribu jam terbang.”

Kita suka bawa-bawa pepatah macam ini ketika ngomongin kesuksesan dalam berkarir.

Tapi, pernah nggak, sih, kita nerapin ini dalam beragama?

Dan kalau tiga puluh hari betul-betul cukup, seharusnya nggak ada lagi, dong, yang mengeluh “masih belum maksimal” di antara kita?

Perubahan nggak terjadi dalam semalam. Dan mungkin, nggak juga dalam tiga puluh hari.

“Idul Fitri” umum diartikan “kembali kepada fitrah” atau “terlahir kembali seperti bayi”.

Kalau betul demikian, mungkin berakhirnya Ramadan bukanlah akhir, melainkan titik awal, pada perjalanan ibadah kita: kita memang masih harus merangkak sedikit demi sedikit sebagaimana bayi belajar berjalan.

Mengatakan ibadah kita langsung kencang ketika baru “terlahir kembali seperti bayi” kayak mengatakan bayi yang baru lahir bisa langsung lari kencang, yang pada realitanya, butuh bertahun-tahun untuk itu.

Nggak cukup sampai di situ, saya yakin tahun demi tahun yang kita jalani hingga akhir hayat kita pun dipenuhi dengan pelatihan dan pembelajaran, terlepas dari adanya bulan Ramadan.

Sehingga, mungkin Ramadan lebih tepat disebut “bulan evaluasi”, yang fungsinya lebih untuk me-rekalibrasi atau untuk meng-course-correct–ketimbang sebagai “ujian akhir”–dari pelatihan kita.

Proses tersebut nggak akan bikin kita langsung sampai tujuan–sehingga nggak ada gunanya menyesali masih jauhnya kita dari tujuan tersebut–melainkan sekadar memastikan kita ada di jalur yang benar.

Menjadi Ahli Ibadah Profesional

Mas Fahruddin Faiz, dalam esainya, menjelaskan dengan apik bagaimana penyesalan akan ketidakmaksimalan kita di bulan Ramadan justru menandakan kesungguhan kita dalam memperbaiki diri, dan bahwa perasaan puas justru cenderung menghilangkan motivasi kita untuk berkembang.

Meskipun demikian, kalau saya boleh menambahkan, bukan berarti kita jadi nggak berusaha “mendamaikan” penyesalan tersebut.

Penyesalan memang bisa memberi dorongan lebih untuk memperbaiki diri. Tapi, kalau kita lihat bagaimana pada akhirnya dorongan emosi tersebut surut juga seiring berjalannya waktu, kita mestinya paham bahwa emosi bukanlah sumber motivasi jangka panjang yang reliabel.

Dalam tulisan di blognya dan bukunya, The War of Art, Steven Pressfield menjelaskan perbedaan “mindset amatir” dan “mindset profesional”, yang kalau kusimpulkan,

“Seorang profesional nggak bereaksi secara emosional pada kesuksesan atau kegagalan; dia fokus bekerja demi pekerjaan itu sendiri; sedangkan seorang amatir bergantung pada motivasi emosional yang nggak pasti.”

Sebagai muslim, yang pada hakikatnya berprofesi sebagai ahli ibadah, sudah sepatutnya kita mengadopsi “mindset profesional” yang dikemukakan Pressfield.

Seorang ahli ibadah profesional nggak akan membiarkan perasaan sukses atau gagalnya–dalam Ramadan yang telah dilewatinya–menggoyahkan ibadahnya.

Tentu, sebagai manusia, ia tetap bisa merasakan penyesalan dan mendapati bahwa masih banyak yang harus ia perbaiki dalam pekerjaannya.

Tapi, ia menerapkannya secara profesional: perbaikan diri ini adalah semata-mata demi pekerjaannya–ibadah pada Allah–bukan untuk memuaskan egonya.

Ini bukan berarti mereka jadi nggak punya keterkaitan emosional dengan Allah. Justru sebaliknya:
Mereka tahu satu-satunya cara mendekatkan diri pada Allah adalah dengan beribadah; profesionalisme mereka memastikan tidak goyahnya ibadah tersebut, yang suatu saat nanti, akan berbuah cinta yang murni pada Allah SWT.

Dan, bicara soal penyesalan, jangan sampai penyesalan kita justru malah menjadi ketidakbersyukuran.

Seburuk-buruknya performa Ramadan kita, kita masih bisa beribadah apa adanya; masih banyak saudara kita di luar sana yang bahkan belum bisa mencicipi nikmat Islam.

Kenapa Hanya Ramadan?

Kita selalu bertanya, apa hasil Ramadan kita tahun ini.

Tapi, kenapa hanya Ramadan? Kenapa kebanyakan dari kita nggak menanyakan hal yang sama di bulan-bulan lainnya?

Pertanyaannya bukan lagi, “Sudah seberapa berubah kita di Ramadan ini?” melainkan, “Bagaimana kita menjaga refleksi diri di Ramadan ini agar bertahan di bulan-bulan berikutnya, dan selamanya?”

Saya rasa, bukan perginya Ramadan, melainkan fakta bahwa kita seakan memandang kesebelas bulan lainnya kurang penting, yang mestinya lebih kita sesali.

Penutup

Allah menganugerahi kita dengan puluhan tahun kehidupan untuk beribadah.

Kalau menggapai puncak ketakwaan memang semudah beribadah selama tiga puluh hari, kenapa nggak Allah pendekkan saja umur kita jadi beberapa bulan?

Ibadah membutuhkan komitmen.

Muslim yang sukses, saya rasa, bukanlah yang mengeluh dan membuang-buang waktu menyalahkan diri sendiri atas kegagalan mereka, melainkan yang fokus menjadikannya perbaikan diri secara profesional: demi ibadah pada Allah itu sendiri, bukan ego mereka.

Selama kita memahami itu dan tidak berlebihan, tentu, kita layak dan patut sedih meninggalkan bulan yang penuh dengan bonus pahala berlipat ganda ini.

Meski demikian, berada di tengah-tengah kesedihan ini menyadarkan saya bahwa saya pribadi, entah mengapa, tidak merasa sesedih itu dan tidak semenyesal itu akan ibadah di Ramadan ini.

Melihat kualitas ibadah saya yang masih pasang surut, rasanya tidak mungkin juga, sih, ini disebabkan penerapan saya terhadap tiga-alasan-untuk-tidak-menyesali-Ramadan yang saya jelaskan di atas.

Mungkin, ibadah saya selama ini luar biasa lebih buruk dari orang lain, sehingga menyesali perginya Ramadan pun saya nggak bisa. Alhasil, saya justru menyesali ketiadaannya penyesalan dalam diri saya.

Apakah saya tidak pantas menjadi muslim? Saya tidak tahu.

Tapi pada akhirnya, saya yakin, yang paling penting bukanlah menyesal atau tidak, melainkan apa yang kita lakukan setelah Ramadan yang mulia ini meninggalkan kita: tetap beribadah atau tidak?

Studies medicine 🧑‍⚕️. Currently writes on health ⛑, education 🧑‍🎓, day-to-day documentaries 📹, with unpopular ideas 💡 along the way. Writes in 🇬🇧🇮🇩

Studies medicine 🧑‍⚕️. Currently writes on health ⛑, education 🧑‍🎓, day-to-day documentaries 📹, with unpopular ideas 💡 along the way. Writes in 🇬🇧🇮🇩