Seniority Reimagined

Memahami, bersimpati dengan, dan mereka ulang senioritas, keruwetannya, dan ke-takberalasan-annya (atau setidaknya yang *tampaknya* demikian), untuk senioritas yang lebih baik dan terbuka.

Setahun telah berlalu sejak saya menuliskan kritik saya terhadap senioritas di institusi-institusi pendidikan di Indonesia:

… dan banyak sekali yang baru saya pahami dalam setahun terakhir tersebut.

Sehingga, saya rasa, sudah saatnya menuliskannya kembali. Namun, bukan untuk mengkritik, melainkan untuk memahami, bersimpati dengan, dan mereka ulang—reimagine—senioritas, keruwetannya, dan ke-takberalasan-annya.

Foto oleh Tim Gouw (Unsplash)

Senior dan Aturan-Aturannya

Saya masih ingat ketika kakak kelas sekaligus penanggung jawab kelas kami pada masa OSPEK di SMA membuatkan chat group dan melarang kami membuat grup lain di luar pengetahuan mereka.

Tentu saja, larangan ini dibantah seketika; dalam sekejap, kami sudah punya grup baru yang serupa; jumlah anggotanya hanya berkurang dua atau tiga—tanpa kakak kelas.

Cepat atau lambat, pembangkangan diam-diam macam ini akhirnya akan bocor juga.

Pada sesi OSPEK berikutnya, yang diambil alih para senior bertitel “Komisi Disiplin”, kita tak bisa berbohong —

“Kamu langgar aturan kakak kelas kamu?”

“Siap, tidak, Kang.”

“BERANI BERBOHONG, KAMU!?” *jebret*.

Di sisi lain, kalau kita jujur dan mengakui kesalahan kita:

“Terus, kalo udah tahu salah, kenapa dilakuin!?”

“Bahan-bahan” yang dijadikan “amunisi” para senior kita biasanya merupakan hal-hal sepele.

Namun, justifikasi umum para senior mengenai hal tersebut adalah bahwa “kalau menaati aturan sepele saja tidak bisa, bagaimana dengan aturan-aturan nyata di luar sana nanti?”

Setahun yang lalu, saya sebagai junior akan berargumen, “Aturan sepele tidak berjalan dengan efektif karena tidak mengandung konsekuensi nyata—melainkan kebencian para senior yang dibuat-buat dan tidak lebih dari omong kosong di mata para junior—yang terdapat dalam ‘aturan-aturan nyata di luar sana nanti’.”

Saya ingin mengatakan bahwa kalau konsekuensinya betulan nyata, semua orang juga pasti taat, kok.

Akan tetapi, ada kelemahan dalam argumen tersebut:

Kalau kita pelajari mekanisme “pembangkangan junior” secara luas, saya yakin kita akan menemukan banyak junior yang sebetulnya ingin menaati aturan para senior mereka, entah karena takut, entah karena paham.

Sayangnya, keinginan menegakkan “kebenaran” ini hampir selalu bertentangan dengan kelalaian yang ditimbulkan sebagian junior yang lain.

Kesadaran akan konsekuensi melanggar aturan, hampir pasti dikalahkan oleh kesadaran akan konsekuensi sosial—dari menolak ajakan teman yang lalai untuk melanggar aturan tersebut.

Perhatikan bahwa apa pun konsekuensi dari melanggar suatu aturan—dan baik itu “nyata” maupun dibuat-buat—itu sama sekali tidak masuk perhitungan, terutama ketika seseorang berada dalam tekanan sosial yang konsekuensinya jauh lebih instan:

“Melanggar kakak kelas berarti kena marah besok; menolak ajakan teman, meski tidak baik, berarti dikucilkan seketika.”

Pola pembangkangan ini, sayangnya, sudah melekat baik pada kehidupan di bawah gedung pendidikan maupun pada kehidupan “nyata di luar sana”.

Atul Gawande, seorang dokter bedah di AS, menceritakan dalam bukunya, Better, mengenai kelalaian staf rumah sakit untuk sekadar mencuci tangan setiap selesai memeriksa pasien. Kesimpulannya sebagai berikut:

“Tiap tahun, menurut U.S. Centers for Disease Control, dua juta warga Amerika terinfeksi ketika berada di rumah sakit. Sembilan puluh ribu orang meninggal akibat infeksi tersebut.

“Bagian tersulit dari tugas tim pengendalian-infeksi, menurut spesialis penyakit infeksi, Deborah Yokoe, bukanlah menghadapi beragamnya jenis penularan yang mereka temukan atau menangani kepanikan yang terkadang timbul di kalangan pasien dan staf.

“Justru, kesulitan terbesarnya adalah memastikan para dokter menjalankan satu hal yang secara konsisten dapat mencegah penyebaran infeksi: mencuci tangan.”

Para senior kita di institusi pendidikan tidak mau juniornya terus menerus terjebak dalam ketidakmampuan mengantisipasi konsekuensi tidak langsung—dimarahi senior besok atau menyebarkan infeksi yang baru didiagnosis di masa yang akan datangdi bawah tekanan konsekuensi instan yang melenceng/tidak esensial—dikucilkan teman seketika atau terpaksa menyisihkan sedikit tenaga dan waktu untuk mencuci tangan sehingga tak bisa langsung melakukan hal lain setelah memeriksa pasien.

Kelalaian yang sudah menjadi “penyakit” budaya inilah yang sesungguhnya ingin diberantas oleh para senior kita. Dan, mau tak mau, mereka harus memulainya dari hal-hal yang sepele.

Foto oleh Michal Matlon (Unsplash)

Senior dan Ke-takberalasan-annya

Masih dalam bukunya, Better, Atul Gawande menceritakan bahwa kebanyakan orang yang menuntut dokter atas malapraktik (terhadap keluarganya) bertindak sejauh itu bukan untuk menjatuhkan sang dokter, melainkan semata-mata untuk mengetahui kebenaran di balik kasus tersebut:

“Dokter memiliki tanggung jawab etis untuk memberitahu pasien [atau keluarganya] ketika terdapat kesalahan dalam penanganan.

“Tapi, bagaimana jika mereka [para dokter] tidak responsif — bagaimana jika para dokter lebih mengkhawatirkan soal gugatan malapraktik ketimbang soal [kebenaran] pasien—atau bagaimana jika penjelasan para dokter terdengar mencurigakan?

“Orang-orang sering menyewa pengacara hanya untuk membantu mereka mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.”

Vernon Glenn, pengacara asal Carolina Selatan, bercerita kepada Gawande,

“Lebih sering dari yang Anda bayangkan, kami [pihak pengacara] akan bilang, ‘Ini yang sebenarnya terjadi. [Tapi] menurut kami ini bukan kasus [yang harus/dapat/layak dibawa ke pengadilan].’

“Kemudian, mereka [pihak penggugat] akan berkata, ‘Setidaknya sekarang kami tahu apa yang sebenarnya terjadi.’”

Mungkin, banyak dokter yang menganggap para penggugat kasus malapraktik sebagai orang-orang yang tak beralasan, atau terlampau emosional hingga tidak dapat menerima kenyataan.

Pada kenyataannya, anggapan tersebut timbul akibat ketidakmampuan/ketidakmauan dokter untuk memahami pasiennya (dan keluarganya).

Mungkin juga, banyak junior yang menganggap para seniornya “bertindak” tanpa alasan, atau terbawa suasana hingga yang tadinya “pendidikan” malah menjadi perundungan.

Pada kenyataannya, mungkin anggapan tersebut timbul akibat ketidakmampuan/ketidakmauan para junior untuk memahami seniornya (beserta aturan-aturan dan tindakannya).

Pendidikan dan perlakuan keras yang paling dibuat-buat dan betulan tak beralasan sekalipun masih memiliki esensi, yakni ke-takberalasan-annya itu sendiri:

Kita dilatih untuk terbiasa menghadapi hal-hal yang tampak tak beralasan atau tak terduga bagi kita, karena hal-hal tersebut bukannya tak beralasan—tiap akibat pasti ada sebab/alasannya—melainkan kita kurang berusaha/mau untuk memahaminya.

Foto oleh Annie Spratt (Unsplash)

Memahami Kelemahan Senioritas sebagai Tradisi Tak Tertulis

Dalam esai yang saya publikasikan tahun lalu, saya berargumen bahwa kelemahan senioritas kita terletak pada modelnya yang “ketinggalan zaman”:

Bahwa di era yang bukan lagi era militer ini, pendekatan yang “halus” namun kritis jauh lebih efektif ketimbang yang keras namun “tumpul”.

Bahkan sejak 1936, Dale Carnegie sudah menerbitkan How to Win Friends and Influence People, pedoman praktis dasar-dasar hubungan manusia yang menyimpulkan bahwa bukan kekejaman, melainkan kelemahlembutan dan empati, yang seorang senior butuhkan jika betul-betul ingin memengaruhi juniornya.

Meskipun demikian, setelah memahami mekanisme aturan-aturan dan “ke-takberalasan-an” para senior di atas, di sinilah letak kelemahan senioritas yang sesungguhnya (setidaknya, sejauh yang saya simpulkan saat ini):

Belum ada batasan yang konkret dan eksplisit untuk mengukur urgensi dan kepentingan dari pendidikan melalui perlakuan keras yang dapat dieksekusi oleh para senior, baik yang beralasan secara langsung maupun yang murni dibuat-buat sebagai “bekal di masa yang akan datang”.

Sebagaimana sempat saya utarakan dalam cuitan di Twitter,

sumber: https://twitter.com/Anshari_H/status/1411314055889907714

Saya belum dapat menawarkan solusi atas kelemahan ini; untuk menentukan sendiri definisi dan batas-batas senioritas yang efektif, tanpa bantuan dari seluruh individu yang terlibat dalam tradisi ini, lebih merupakan suatu kesombongan dan kenaifan ketimbang suatu keberanian.

Meskipun demikian, saya tetap bermimpi, suatu saat nanti, kita punya rumusan yang konkret dan eksplisit tersebut—kalau perlu, AD/ART (Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga) tiap organisasi (dalam bidang apa pun) memiliki bab tersendiri yang berjudul “Senioritas”.

Tidak hanya itu, sebagaimana Warren Warwick, dokter anak asal AS, mengkritik National Clinical Guidelines (pedoman dokter nasional AS),

“National clinical guidelines for care are a record of the past, and a little more — they should have an expiration date.” (Better, 2007)

… “pedoman senioritas” juga harus senantiasa diperbarui dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.

Dengan belum adanya pedoman macam itu, para senior cenderung menyerahkan tanggung jawab mereka—untuk mengembangkan pemahaman juniornya akan esensi dari senioritas yang mereka terapkan—kepada para junior itu sendiri:

“Nanti juga kamu [junior] ngertilah, kenapa kita [senior] melakukan semua ini.”

Kalaupun mereka (junior) tak pernah mengerti sampai akhir hayatnya, setidaknya, mereka tetap terbiasa dan secara tidak sadar sudah membangun insting untuk mengantisipasi tradisi senioritas dalam kehidupan mereka.

Namun, dalam hal itu, saya rasa kita cenderung menaksir terlalu tinggi kemampuan para junior dalam mengembangkan pemahaman maupun membangun “insting” yang tepat.

Ini, misalnya, ditunjukkan pada karakter para junior yang cenderung paranoid (secara negatif) ketimbang antisipatif (secara positif) terhadap penerapan senioritas yang akan mereka hadapi.

Seorang junior yang antisipatif mungkin memang tidak jadi bersenang hati, tapi setidaknya dapat mengubah ketakutannya menjadi excitement — karena ini merupakan sumber pembelajaran—ketika menghadapi senioritas.

Akan tetapi, bukankah jauh lebih banyak yang bersikap murni paranoid ketimbang antisipatif?

Sebagaimana penuturan berikut,

“Mendidik adalah tanggung jawab setiap orang terdidik. Berarti juga, anak-anak yang tidak terdidik di Republik ini adalah “dosa” setiap orang terdidik yang dimiliki di Republik ini. Anak-anak nusantara tidak berbeda. Mereka semua berpotensi. Mereka hanya dibedakan oleh keadaan.”

— Anies Baswedan (menurut salah satu sumber)

… sudah sewajibnya bagi kita, sebagai senior yang terdidik—telah memahami esensi dari senioritas dan budaya apa pun yang kita terapkan—bertindak lebih optimal dari biasanya, untuk memastikan junior kita dididik seefektif dan seefisien mungkin.

Foto oleh Jordan Madrid (Unsplash)

OSPEK “Reimagined”

Senioritas, baik disadari maupun tidak, melekat secara menyeluruh di sepanjang kehidupan seseorang di tanah air ini.

Kita tidak bisa memperbaiki seluruhnya dalam sekejap, tapi setidaknya kita bisa mulai dari titik-titik yang paling “rawan” akan penerapan senioritas yang kurang bijak: OSPEK (Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus).

Teori tanpa praktek itu sia-sia; begitu pula praktek tanpa teori:

Bagaimana kalau di akhir rangkaian OSPEK, terutama jika mengandung pendidikan dan perlakuan keras, kita sisipkan “teori” esensi dari semua itu?

“Begini lho, adik-adik, yang kita maksudkan selama beberapa hari terakhir. […]”

Kalau tidak, bagaimana kalau kita buat OSPEK versi “pascapendidikan”, misalnya “Evaluasi Studi dan Pengalaman Kampus (ESPEK)” yang dilaksanakan menjelang kelulusan?

“Begini lho, adik-adik, yang kita maksudkan selama […] tahun ini.”

Bagaimana kalau kita membuat kuisioner anonim pasca-OSPEK, di mana setiap peserta dapat mengutarakan pendapat, saran, serta pemahamannya yang kritis terhadap esensi dari penerapan senioritas yang mereka alami?

Analisis dari data yang terkumpul merupakan bentuk “kewaspadaan” panitia OSPEK (para senior) terhadap efektivitas mereka dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik.

Lagi-lagi, saya kutip kata-kata Gawande dalam Better,

“Vigilance over the details of one’s own performance offered the only chance to do better.”

Lebih bagus lagi jika entah bagaimana caranya—mari pikirkan bersama setelah ini—kita bisa mengetahui siapa yang mengemukakan pendapatnya, sehingga jika kita temukan junior yang paham dengan esensi semua ini, kita bisa mendukungnya untuk menjadi seorang positive deviant:

Ketimbang kita (senior) yang cenderung dianggap “orang luar”, kenapa tidak para positive deviants—junior yang sudah paham dengan metode kita—saja yang dilatih untuk menyebarkan pemahaman tersebut ke kawanannya sendiri sebagai “orang dalam”?

… dan ribuan ide lainnya yang bisa kita terapkan dalam tradisi senioritas kita.

Festival Mahasiswa Baru & Pelajar Indonesia SejutaCita (sumber: sejutacita.id)

Tahun ini, untuk pertama kalinya, SejutaCita mengadakan Festival Mahasiswa Baru & Pelajar Indonesia yang terdiri dari rangkaian OSPEK daring dan talkshow dari tokoh-tokoh inspiratif dan pembicara nasional.

Festival ini terbuka untuk seluruh mahasiswa di Indonesia.

Inovasi ini baru langkah awal dari masa depan kita, OSPEK kita, dan tradisi senioritas kita.

Saya yakin, kalau kita terus lebih terbuka terhadap persoalan senioritas dan berbagai manifestasinya seperti ini, akan terus timbul ide-ide brilian yang tak terbatas untuk me-reimagine tradisi kita yang satu ini.

Konklusi

Sejauh ini, saya dengan gamblang menyebut “para senior” tanpa sekali pun menyebut kata “oknum”.

Mengesampingkan segelintir — terlihat banyak karena disorot media, tapi coba bandingkan dengan semua adegan yang “baik-baik saja” di seluruh penjuru negeri ini—kasus yang pelakunya mungkin memang layak disebut “oknum” (meski tetap kewajiban kitalah memahami alasan di balik tindakan oknum-oknum ini),

setiap “senior” di negeri ini memiliki tujuan yang sama, kok, dengan para “junior”-nya: membangun masyarakat yang antisipatif terhadap segala tantangan dalam kehidupan ini, agar kita semua dapat hidup lebih baik.

Hanya saja, metode kita terkadang berbeda.

Solusinya, pada dasarnya, sederhana: keterbukaan dan komunikasi.

Donald Berwick, mantan Administrator of the Centers for Medicare and Medicaid Services, berkata,

“To fix medicine, we need to do two things: measure ourselves and be more open about what we are doing.” (Better, 2007)

Senioritas dan kedokteran ternyata tidak begitu berbeda.

Solusi dari senioritas, kedokteran, atau permasalahan-permasalahan lainnya yang kita hadapi, memang sangat beragam.

Ada banyak pintu yang harus dilalui menuju gudang-gudang ide dan solusi yang harus dibedah.

Akan tetapi, apa pun masalahnya, selama itu berhubungan dengan manusia sebagai makhluk sosial, kuncinya hanya satu: keterbukaan dan komunikasi.

Kalau ada satu hal yang bisa kita lakukan setelah membaca esai ini, itu adalah ikut membuka diri dan mengomunikasikan pendapat dan ide kita, baik sebagai senior maupun junior, karena itulah yang paling kita butuhkan saat ini.

“Openness would drive improvement, if simply through embarrassment.”

—Donald Berwick (Better, 2007)

Studies medicine 🧑‍⚕️. Currently writes on health ⛑, education 🧑‍🎓, day-to-day documentaries 📹, with unpopular ideas 💡 along the way. Writes in 🇬🇧🇮🇩

Studies medicine 🧑‍⚕️. Currently writes on health ⛑, education 🧑‍🎓, day-to-day documentaries 📹, with unpopular ideas 💡 along the way. Writes in 🇬🇧🇮🇩