Seniority Reimagined

Memahami, bersimpati dengan, dan mereka ulang senioritas, keruwetannya, dan ke-takberalasan-annya (atau setidaknya yang *tampaknya* demikian), untuk senioritas yang lebih baik dan terbuka.

Foto oleh Vitolda Klein (Unsplash)
Foto oleh Tim Gouw (Unsplash)

Senior dan Aturan-Aturannya

“Tiap tahun, menurut U.S. Centers for Disease Control, dua juta warga Amerika terinfeksi ketika berada di rumah sakit. Sembilan puluh ribu orang meninggal akibat infeksi tersebut.

“Bagian tersulit dari tugas tim pengendalian-infeksi, menurut spesialis penyakit infeksi, Deborah Yokoe, bukanlah menghadapi beragamnya jenis penularan yang mereka temukan atau menangani kepanikan yang terkadang timbul di kalangan pasien dan staf.

“Justru, kesulitan terbesarnya adalah memastikan para dokter menjalankan satu hal yang secara konsisten dapat mencegah penyebaran infeksi: mencuci tangan.”

Foto oleh Michal Matlon (Unsplash)

Senior dan Ke-takberalasan-annya

“Dokter memiliki tanggung jawab etis untuk memberitahu pasien [atau keluarganya] ketika terdapat kesalahan dalam penanganan.

“Tapi, bagaimana jika mereka [para dokter] tidak responsif — bagaimana jika para dokter lebih mengkhawatirkan soal gugatan malapraktik ketimbang soal [kebenaran] pasien—atau bagaimana jika penjelasan para dokter terdengar mencurigakan?

“Orang-orang sering menyewa pengacara hanya untuk membantu mereka mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.”

“Lebih sering dari yang Anda bayangkan, kami [pihak pengacara] akan bilang, ‘Ini yang sebenarnya terjadi. [Tapi] menurut kami ini bukan kasus [yang harus/dapat/layak dibawa ke pengadilan].’

“Kemudian, mereka [pihak penggugat] akan berkata, ‘Setidaknya sekarang kami tahu apa yang sebenarnya terjadi.’”

Foto oleh Annie Spratt (Unsplash)

Memahami Kelemahan Senioritas sebagai Tradisi Tak Tertulis

Belum ada batasan yang konkret dan eksplisit untuk mengukur urgensi dan kepentingan dari pendidikan melalui perlakuan keras yang dapat dieksekusi oleh para senior, baik yang beralasan secara langsung maupun yang murni dibuat-buat sebagai “bekal di masa yang akan datang”.

sumber: https://twitter.com/Anshari_H/status/1411314055889907714

“National clinical guidelines for care are a record of the past, and a little more — they should have an expiration date.” (Better, 2007)

“Mendidik adalah tanggung jawab setiap orang terdidik. Berarti juga, anak-anak yang tidak terdidik di Republik ini adalah “dosa” setiap orang terdidik yang dimiliki di Republik ini. Anak-anak nusantara tidak berbeda. Mereka semua berpotensi. Mereka hanya dibedakan oleh keadaan.”

— Anies Baswedan (menurut salah satu sumber)

Foto oleh Jordan Madrid (Unsplash)

OSPEK “Reimagined”

“Vigilance over the details of one’s own performance offered the only chance to do better.”

Festival Mahasiswa Baru & Pelajar Indonesia SejutaCita (sumber: sejutacita.id)

Konklusi

“To fix medicine, we need to do two things: measure ourselves and be more open about what we are doing.” (Better, 2007)

“Openness would drive improvement, if simply through embarrassment.”

—Donald Berwick (Better, 2007)

--

--

Studies medicine 🧑‍⚕️. Currently writes on health ⛑, education 🧑‍🎓, day-to-day documentaries 📹, with unpopular ideas 💡 along the way. Writes in 🇬🇧🇮🇩

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Anshari Hasanbasri

Studies medicine 🧑‍⚕️. Currently writes on health ⛑, education 🧑‍🎓, day-to-day documentaries 📹, with unpopular ideas 💡 along the way. Writes in 🇬🇧🇮🇩