Yuk, Kritisi Senioritas di Kalangan Pelajar

Foto oleh Jen Theodore dari Unsplash

“Buat apa sih, senioritas di sekolah atau universitas itu? Sebenarnya, apa itu senioritas? Inikah yang namanya senioritas?” Yuk, kupas tuntas dan kritisi, supaya kamu tidak terseret ke lubang pasir yang sama.

Baru-baru ini Aku nemu video podcast tentang senioritas yang cukup menarik. Di video tersebut, seorang mahasiswa jurusan Teknik Elektro Universitas Trisakti menceritakan pengalamannya menghadapi tradisi, Ospek, dan senioritas di kampusnya. Kupilih video ini sebagai bahan kritik, karena agaknya relatable bagi diriku sendiri dan mayoritas pelajar di Indonesia.

Isi video tersebut bukan hal baru, sih. Tapi pernyataan dari si mahasiswalah yang menarik perhatianku. Kalau boleh kukutip obrolan mereka, “Impactnya apa sih ke diri lo sendiri, yang namanya senioritas ini?” tanya si host di menit 18:03. Si mahasiswa menjawab, “Gua Teknik Elektro, bukan kemauan gua. Seandainya gua Teknik Elektro bukan di Trisakti, gua nggak jadi orang.”

“Wuah, ini keren sih,” gumamku pertama kali denger kata-kata tersebut.

Gua nggak cinta dengan Teknik Elektronya atau pendidikannya, tapi gua jadi cinta dan nyaman dengan kekeluargaannya,” tutur si mahasiswa lebih lanjut. (Bagian ini agak membuatku nggak sreg—melihat mahasiswa yang belum berhasil meraih kecintaan terhadap ilmu pengetahuan — tapi mari obrolkan itu di lain waktu.)

Poin penting yang ia kemukakan kemudian, “Semenjak itu, gua berani ngomong, berhadapan dengan orang, dan berpendapat. Itu yang ditekenin (oleh senior) setiap kumpul angkatan. Kita ditunjukin kesalahan kita — yang selalu aja ada — , dan diteken buat ngomong. Alhasil, setiap lo ketemu orang baru, masalah baru, lo jadi bisa nyelesaikan masalah dengan cepat.”

Satu lagi, “Jadi, senioritas tuh penting nggak sih di kampus?” tanya si host di menit 19:45. “Menurut gua penting, tapi tiap tahun caranya harus diubah. Semakin ke sini, tekanannya harus dikurangi. Karena anak jaman sekarang udah nggak bisa kayak dulu — kalau dikerasin, jatohnya malah dendam. Jadi gimana caranya kita harus jadiin dia orang (si junior) tanpa dia benci sama kita,” jawab si mahasiswa.

Singkat cerita, beres kutonton video itu, Aku berpikir sejenak. Itu video yang bagus. Tapi skeptisismeku mencium ‘celah’ pada argumen si mahasiswa, terlepas dari keyakinannya yang membuat senioritas seakan terlalu penting untuk ditiadakan, yang mungkin kamu harapkan kalau kamu siswa atau mahasiswa baru di sekolah atau universitasmu.

Sebelum melangkah lebih lanjut, kita mesti tahu dulu definisi senioritas yang sebenarnya. Sebuah artikel di Blog Zenius memberikan penjelasan bagus tentang fenomena senioritas ini serta asal mulanya.

Kalau boleh kukutip artikel tersebut,

“… senioritas itu nggak cuma dari sudut pandang negatif doang, tapi justru sebagai budaya positif untuk meneruskan rantai ilmu pengetahuan, keterampilan, maupun pengalaman dari generasi sebelumnya. Karena memang dengan cara seperti inilah spesies manusia bisa bertahan hidup dan beradaptasi dengan lingkungan hingga mengembangkan peradaban sebesar ini.”

Kita bisa simpulkan bahwa senioritas pada hakikatnya melekat pada peradaban manusia. Aku bahkan bisa bilang bahwa proses belajar mengajar di sekolah atau universitas itu sendiri pada dasarnya merupakan senioritas! Senioritas antara guru atau dosen dan peserta didik. Jadi sepakat ya, senioritas nggak bisa ditiadakan — kecuali kamu, suatu saat punya bayi dan mau langsung kaubiarkan dia terjun ke jalanan. Siapa tahu bisa berdiri dan ngomong sendiri ya?

Kita udah tahu definisi yang tepat plus manfaat yang diceritakan mahasiswa tadi terkait senioritas. Dari situ keliatannya baik-baik aja, ‘kan? Lalu apa yang membuatku skeptis?

Kenyataannya, masih ada aja yang menerapkan senioritas secara tidak tepat, terutama di sekolah atau universitas. Fakta bahwa banyak banget anak-anak yang baru masuk SMP, SMA, atau universitas, nggak nyaman dengan senioritas yang mereka rasakan, mengindikasikan kemungkinan adanya penyalahgunaan budaya senioritas ini.

Kalau kamu saat ini termasuk golongan senior, mungkin kamu pengen ngomong dengan sinis, “Ah, dasar menye-menye. Nanti juga kamu (junior) ngerti manfaatnya.” Tapi sebelum ngomong begitu, mari luruskan kerangka pemikiran kita. Ikuti logikaku:

Dalam skala besar dan secara mendasar, kita tahu senioritas menunjang kebertahanan hidup manusia di bumi. Tapi konsep bertahan hidup ini berubah seiring berjalannya waktu. Kamu yang hidup di zaman hunter-gatherer, mungkin dididik paling keras, karena kerjaanmu melawan binatang buas. Kamu yang hidup pada masa penjajahan Belanda, mungkin dididik mental fisiknya tanpa jeda, karena kerjaanmu berperang melawan penjajah.

Tapi semua itu sudah menjadi sejarah. Kamu nggak perlu bertarung sama macan atau perlu tahu cara memakai senapan untuk sekadar bertahan hidup.

Aku setuju dengan paruh awal pernyataan mahasiswa tadi, bahwa senioritas semakin ke sini harus dikurangi ‘tekanan’nya. Tapi bukan karena anak zaman sekarang nggak bisa — nggak punya mental sekuat orang-orang zaman dulu — , melainkan mereka memang semakin tidak membutuhkannya, at least nggak se-urgent dulu.

Bukan masalah mereka mendendam sama kalian, para senior. Tapi masalah waktu yang sering kali terbuang sia-sia, mendidik mental mereka supaya nggak pundungan kalo dibentak atas hal yang sering kali dibuat-buat (entah kalau kalian bermaksud merepresentasikan pendidikan militer yang emang harus siap siaga menerima perintah keras di medan perang) yang … semakin kurang relevan di lingkungan sehari-hari kita. Yang lebih mereka butuhkan adalah mental kritis menghadapi dunia luar saat ini yang ‘perkataannya’ halus dan manis, tapi tajam di baliknya.

“Tetep harus keras dong. Gimana kalo guru yang membentakmu? Kalo kamu jadi pengusaha dan dikritik habis-habisan sama pesaingmu? Kamu ga bisa bertahan tanpa mental kuat yang dididik dengan keras,” kata seniormu. Ehm, percayalah, mental yang ‘keras’ memang membuatmu bertahan. Tapi tanpa mental yang kritis, kamu nggak bisa maju, hanya berdiam di tempat.

Yang ingin kukatakan, fokuslah pada hal esensial seperti pembentukan mental kritis tadi, dengan ‘penguatan’ mental sebagai bonus. Jangan sampai tertukar. Apalagi kehilangan esensi tersebut.

Itu satu. Yang kedua, aku senang mendengar keluaran senioritas ini menjadi individu yang berani berbicara, menghadapi orang, dan mengeluarkan pendapat. Tapi apakah itu saja cukup?

Mungkin kamu pernah berdebat dengan seniormumulai dari sini kalau kuberi garis miring, maksudku senior-senior yang nyeleneh ya; bukan semua senior— di sekolahmu atau universitasmu. Mereka menunjukkan kesalahanmu dan meminta penjelasan darimu. Kamu lontarkan seribu satu argumen tapi ujung-ujungnya pembelaanmu selalu disalahkan (padahal kauyakin ada kok yang benar secara logika dan empiris) dan merekalah yang selalu benar.

Mungkin kamu sampai pada titik di mana kamu bingung mana yang benar mana yang salah — karena tidak ada yang benar, menurut seniormu. Iya sih, kamu jadi terlatih berbicara. Otakmu nggak kosong, malahan penuh dengan argumen, tapi semuanya bercampur aduk — entah mana yang benar atau baik, entah mana yang salah atau buruk. Kalau pun tidak demikian, entah mana yang akan diterima. Kamu acuh tak acuh dengan logika. Masa bodoh, yang penting aku ngomong dan mereka terima.

Aku nggak mengatakan mahasiswa Trisakti kita tadi demikian ya. Tapi di lingkungan seperti yang ia ceritakan, rentan banget untuk timbul fenomena tersebut. Dan lingkungan tersebut ada di mana-mana, mungkin di tempatmu sendiri.

Ada kan, orang yang berani berbicara di depan umum, tapi isinya tidak sepadan dengan keberaniannya? Tanpa mereferensikan apapun, nggak menutup kemungkinan, orang-orang seperti merekalah yang menduduki kekuasaan di masyarakat.

Aku tahu, nggak semuanya gitu sih. Yang kuilustrasikan di atas merupakan sisi ekstrem dari pelencengan senioritas. Tapi yang kulihat dan kurasakan sendiri — entah sebagai junior entah senior — , demikianlah yang sebagian besar terjadi di lapangan. Alhasil, penerapan senioritas bukan lagi melestarikan, melainkan merusak, peradaban manusia.

Kok bisa kayak gitu? Jawabannya sederhana: para senior ini lupa, atau tidak tahu, makna senioritas yang sebenarnya. Mereka hanya meneruskan tradisi dari leluhur mereka. Mungkin zaman buyutnya buyutnya buyut kakek mereka dulu masih relevan. Tapi saat ini?

Aku setuju kok, mendidik junior dengan tegas untuk menanamkan karakter yang sopan santun, saling menghargai, rendah hati, … kau sebutlah sisanya. Aku setuju kok, memancing junior untuk berbicara supaya mereka berani dan percaya diri. Tapi semua ada proporsinya. Ada caranya. Ada seninya.

Ospek berikutnya, mulailah dengan mencontohkan sopan santun disertai kepercayaan diri dan wibawa. Hey junior, ucapkan, “tidak, terima kasih,” kalau seniormu melangkah ke depanmu dengan legeg. Senior, bersikaplah keras atau provokatif hanya jika mental mereka kebas atau terlalu naif. Jangan kegeeran dulu; mentang-mentang murid baru langsung kauasumsikan mereka bodoh.

Tapi kalau kelak kamu, senior, melihat sikap juniormu belum mencerminkan apa yang kamu didik dahulu di masa Ospek atau Pengenalan Lingkungan Sekolah, tunjukkan kembali cara bersikap yang semestinya. Beri contoh, jadilah teladan.

Berpapasan dengan junior kemudian dengan sinis menyinggung, “Mana salamnya, Dek? Mana sopan santunnya, Dek?” Oke, juniormu mendadak ‘sopan’. Tapi bukan karena mereka menghormatimu; karena mereka nggak mau buang-buang waktu berurusan denganmu yang menuntut juniornya untuk bersikap sopan, padahal dirinya sendiri nggak sopan dengan juniornya — sopan santun itu berlaku untuk setiap orang, kan? Mau nggak kamu dibegitukan dengan sinis sama gurumu? Toh setelah itu, mereka (para junior) kembali bersikap seakan kamu tidak ada.

Kalau kamu, senior, ingin melatih kepercayaan diri juniormu, ajaklah berdebat. Beri mereka argumen yang berbobot, cerna argumen mereka tanpa melotot-melotot. Tugasmu memperbaiki, bukan mencari-cari kesalahan — termasuk kesalahan dirimu sendiri. Kalau mereka salah, jelaskan mengapa. Kalau kamu salah, akui; itu nggak apa-apa.

Lakukan ini di keseharianmu, niscaya kamu bisa mendapatkan rasa hormat, bukan dengan mengemis pada mereka. Dan hanya dengan demikianlah, kamu bisa mendidik juniormu dengan sungguh-sungguh.

“Respect is earned, not given.”

Konklusi

Senioritas, terutama di kalangan pelajar, itu penting banget dalam menunjang kesuksesan mereka. Tapi zaman berkembang, begitu pula metode penerapan senioritas.

Kita ingin melahirkan generasi yang tidak hanya berani berbicara puitis, tapi juga berpemikiran kritis. Inilah yang sering lupakan. Kita sering terlalu fokus menempa cangkang tapi bukan ‘jantung’ otak mereka.

‘Tekanan’ atau pendidikan yang ‘keras’ adalah pedang bermata dua. Tidak kamu gunakan, kamu bisa gagal menebas lawanmu. Ceroboh kamu gunakan, kamu pasti berhasil menebas dirimu sendiri. Jangan main-main dengannya kalau hanya dengan dalih ‘melestarikan tradisi’.

Tradition has to exist for a reason.

Kalau mau kuformulasikan, Tradisi = Esensi x Relevansi.

Mengubah tradisi itu sulit; memperluas perspektifmu tidak. Toh, tradisi dirintis berlandaskan perspektif leluhur kita.

Ajak junior kita berargumen, bukan sekadar mencemooh “kamu cemen”. Ajak mereka mengkritisi paradigma, bukan mentah-mentah tak menerima. Akui kebenaran mereka, perbaiki kesalahan mereka. Bina karaktermu, baru bina karakter mereka. Lagi-lagi, semuanya dilakukan dengan menerapkannya terlebih dahulu pada dirimu sendiri, kemudian menjadi teladan bagi mereka.

Semangat untukmu para junior — calon senior — yang sedang berjuang. Kamu berhak menentukan yang baik dan yang buruk bagi dirimu; asalkan kaujaga hak orang lain.

Semangat pula untukmu, senior. Tapi berhati-hatilah; kamu berperan dalam menentukan kesuksesan juniormu: entah sukses menjadi pemimpin yang menggelegar di masa depan dan diidamkan orang-orang; entah sukses menjadi manusia pencemar masa depan yang didendamkan orang-orang. Pilihan ada di tanganmu.

Studies medicine 🧑‍⚕️. Currently writes on health ⛑, education 🧑‍🎓, day-to-day documentaries 📹, with unpopular ideas 💡 along the way. Writes in 🇬🇧🇮🇩

Studies medicine 🧑‍⚕️. Currently writes on health ⛑, education 🧑‍🎓, day-to-day documentaries 📹, with unpopular ideas 💡 along the way. Writes in 🇬🇧🇮🇩